Membaca Kembali Novel Pride and Prejudice, Bukan Sekadar Romansa Klasik

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Senin, 7 Juli 2025 | 21:39 WIB
Ilustrasi sosok Lady Catherine de Bourgh dalam novel Pride and Prejudice (Poe)
Ilustrasi sosok Lady Catherine de Bourgh dalam novel Pride and Prejudice (Poe)

TINEMU.COM - Membaca Pride and Prejudice hari ini bukan hanya untuk menikmati romansa klasik, tetapi juga untuk memahami dinamika sosial yang masih berlangsung dalam wujud berbeda. Austen menawarkan humor halus, kritik sosial cerdas, dan karakter-karakter yang sangat manusiawi.

Lebih dari dua abad sejak terbit, nilai-nilai yang diangkat novel ini — tentang kebebasan memilih, keberanian berpikir kritis, dan pentingnya mengenal diri sendiri sebelum menilai orang lain — tetap relevan.

Pride and Prejudice bukan sekadar novel klasik, melainkan bacaan yang terus berbicara kepada generasi mana pun, tentang hal-hal paling mendasar dalam kehidupan manusia.

Baca Juga: Sutera Rasuna Luncurkan Vola, Cluster Ketiga dari Kawasan Supercluster Rasuna

Sejak pertama kali diterbitkan pada 1813, Pride and Prejudice karya Jane Austen telah bertahan sebagai salah satu novel paling dicintai dalam sejarah sastra Inggris.

Lebih dari sekadar kisah cinta di lingkungan kelas menengah Inggris abad ke-19, novel ini adalah potret cerdas tentang manusia, prasangka sosial, dan dinamika relasi antargender — yang hingga hari ini masih terasa sangat relevan.

Tokoh utama novel ini, Elizabeth Bennet, menjadi salah satu karakter perempuan paling berpengaruh dalam sastra klasik. Sosoknya cerdas, kritis, dan berani mengutarakan pikirannya di lingkungan sosial yang membatasi perempuan.

Elizabeth bukanlah sosok yang patuh terhadap harapan masyarakat semata. Dalam sebuah dialog dengan Lady Catherine de Bourgh yang berusaha menentang perasaannya kepada Mr. Darcy, Elizabeth dengan tegas menyatakan, “I am only resolved to act in that manner, which will, in my own opinion, constitute my happiness.”

Baca Juga: Metal Attack Festival 2025: Thulcandra Siap Guncang Jakarta!

Kalimat ini bukan hanya menunjukkan keberanian Elizabeth, tapi juga pesan Austen bahwa perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri — pesan yang masih relevan di tengah perjuangan kesetaraan gender hari ini.

Potret Sosial yang Masih Aktual

Pride and Prejudice menggambarkan realitas sosial di mana posisi perempuan sering kali ditentukan oleh pernikahan, status sosial, dan kekayaan keluarga.

Meskipun konteksnya telah berubah, persoalan serupa masih bisa ditemui di masyarakat modern: standar sosial yang sempit, ekspektasi keluarga terhadap perempuan, hingga prasangka berbasis kelas dan penampilan.

Austen dengan tajam memperlihatkan bagaimana manusia sering kali menilai orang lain secara dangkal. Salah satu kutipan paling terkenal dari novel ini mengungkapkan hal itu, “Vanity and pride are different things, though the words are often used synonymously. A person may be proud without being vain.”

Baca Juga: Brimob Metro Jaya Kirim Tim SAR Evakuasi Warga Banjir di Kebon Pala, Jakarta Timur

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X