26 Juli: Saat Puisi Menolak Mati di Negeri yang Sibuk Bertengkar

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Selasa, 22 Juli 2025 | 16:38 WIB
Ilustrasi Chairil Anwar tangkap layar dari google
Ilustrasi Chairil Anwar tangkap layar dari google

TINEMU.COM - Puisi adalah napas yang tak terlihat, tapi dirasakan oleh jiwa. Ia menyalakan api kecil di sudut hati, menghidupkan kata-kata menjadi nyala makna, dan menyatukan keberagaman rasa manusia dalam satu baris lirih.

Di Indonesia, napas itu kini punya satu hari khusus untuk dirayakan: Hari Puisi Indonesia, yang jatuh setiap 26 Juli; bertepatan dengan hari lahir Chairil Anwar, sang pelopor pembebasan bahasa puisi Indonesia.

Penetapan Hari Puisi Indonesia bukan terjadi secara tiba-tiba. Ia berakar pada sebuah perjalanan panjang yang dimulai pada 22 November 2012, ketika Pertemuan Penyair Indonesia di Pekanbaru menyatukan suara dari Aceh hingga Papua.

Pada pertemuan itulah, tekad lahir untuk memberi puisi ruang kehormatan: satu hari dalam setahun yang dikhususkan untuk mengenangnya sebagai bagian tak terpisahkan dari kebudayaan bangsa.

Asrizal Nur, Ketua Yayasan Hari Puisi Indonesia, menyebut penetapan ini sebagai “titik ingatan”; suatu penanda untuk terus merayakan eksistensi penyair dan karya-karyanya sebagai aset bangsa.

Baginya, puisi bukan sekadar kata-kata indah yang dirangkai, tetapi adalah denyut nadi kebudayaan, wadah ekspresi, dan sekaligus jendela untuk menatap jiwa bangsa Indonesia.

Mengapa 26 Juli?

Pemilihan tanggal 26 Juli bukan tanpa alasan. Tanggal ini adalah hari lahir Chairil Anwar; penyair yang telah menorehkan jejak abadi pada peta sastra Indonesia. Chairil, dengan sajak-sajaknya yang berani, telah membuka jalan bagi generasi penyair setelahnya untuk memerdekakan kata dari belenggu konvensi.

Hari kelahirannya menjadi simbol kelahiran yang lebih luas: kelahiran semangat baru untuk terus memuliakan puisi.

Momen sakral ini diresmikan dengan pembacaan Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia oleh Sutardji Calzoum Bachri, didampingi oleh 40 penyair perwakilan daerah. Sebuah pemandangan yang menggetarkan: para penyair dari berbagai sudut Nusantara berdiri bersama, menyatukan suara dalam bahasa puisi.

“Sejak itulah, Hari Puisi Indonesia dirayakan setiap tahunnya. Baik di Jakarta oleh Yayasan Hari Puisi, maupun di berbagai daerah oleh komunitas sastra sesuai visi, misi, dan kemampuan masing-masing,” ujar Asrizal.

Hari Puisi Indonesia bukan hanya seremoni. Setiap tahun, ia datang membawa rangkaian kegiatan yang merayakan keberagaman dan kebersamaan. Ada Pesta Puisi Rakyat, Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia, hingga Anugerah Kepenyairan Adiluhung.

Seminar nasional dan internasional pun digelar, menjembatani dialog antara penyair, akademisi, dan masyarakat luas.

Yang paling istimewa, perayaan ini bukan hanya milik para penyair. Ia melibatkan pelajar, guru, tokoh masyarakat, pejabat negara, wakil rakyat, bahkan duta besar negara sahabat. Puisi menjadi titik temu, ruang di mana perbedaan latar belakang justru dirayakan sebagai kekayaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X