TINEMU.COM - Di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin tergesa dan serba visual, puisi masih bertahan sebagai ruang sunyi yang menghidupkan, menyejukkan, dan menggetarkan. Dan kini, setelah penantian panjang selama 13 tahun, pemerintah Republik Indonesia resmi menetapkan tanggal 26 Juli sebagai Hari Puisi Indonesia.
Penetapan itu dikukuhkan lewat Surat Keputusan Menteri Kebudayaan No. 167/M/2025 yang ditandatangani oleh Menteri Fadli Zon. Ini bukan hanya penetapan administratif, melainkan peristiwa kebudayaan yang menyimpan gema sejarah, semangat kolektif, dan nyala estetika bangsa.
Hari Puisi Indonesia bukan muncul dari ruang kosong. Ia berakar pada sebuah momentum tahun 2012 di Pekanbaru, Riau, ketika 40 penyair dari berbagai penjuru tanah air mendeklarasikan 26 Juli; hari kelahiran Chairil Anwar, sebagai Hari Puisi Indonesia.
Inisiatif tersebut digerakkan oleh tokoh-tokoh penting seperti Rida K. Liamsi dan Asrizal Nur. Sebuah tekad yang sejak awal sadar: bahwa puisi bukan sekadar genre sastra, melainkan warisan jiwa bangsa.
Dari Pekanbaru ke Jakarta: Sebuah Jalan Berliku
Upaya ini tidak berjalan mulus. Seperti diakui Asrizal Nur, Ketua Yayasan Hari Puisi Indonesia, perjuangan selama 13 tahun itu penuh tantangan. Tanpa dukungan struktural dari negara, para penggerak Hari Puisi bergerak mandiri, merintis perayaan tahunan di berbagai kota, mempertemukan penyair dengan masyarakat, dan menjaga agar nyala puisi tidak padam di tengah gelombang zaman yang seringkali pragmatis dan instan.
Namun kesabaran itu membuahkan hasil. Sabtu malam, 26 Juli 2025, di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan dihadiri para penyair dan budayawan, Hari Puisi Indonesia akhirnya diresmikan oleh negara.
Tak hanya sebagai simbol penghormatan kepada Chairil Anwar, tetapi juga pengakuan atas puisi sebagai kekuatan budaya yang membentuk, mengingatkan, dan menyatukan bangsa.
“Puisi ini adalah objek kebudayaan dan punya soft power di tengah peradaban dunia,” ujar Menteri Fadli Zon. Sebuah pernyataan yang bukan basa-basi, melainkan pengakuan penting dari negara bahwa puisi tak hanya milik ruang sekolah atau panggung sastra, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam merawat nalar, emosi, dan kesadaran kolektif rakyat Indonesia.
Di akhir sambutannya tak lupa Menteri Fadli Zon membacakan puisi Chairil Anwar yang berjudul Diponegoro. Tepat di saat bangsa ini juga tengah merayakan 200 tahun perang Jawa yang dipimpin oleh Diponegoro.
Chairil Anwar: Sosok, Suara, dan Semangat
Mengapa 26 Juli? Karena hari itu adalah hari lahir Chairil Anwar (1922–1949), sang pelopor Angkatan ’45 yang membebaskan puisi Indonesia dari bentuk dan suara lama. Chairil adalah penyair yang menghidupkan bahasa, menjadikan kata-kata sebagai medan perlawanan dan kebebasan. Lewat puisinya, kita belajar bahwa kata bisa menjadi tombak untuk menggugat dan juga pelukan untuk menguatkan.
Chairil tak pernah menyelesaikan pendidikan formalnya, tapi semangat belajarnya tak padam. Ia membaca karya-karya sastra Eropa, belajar bahasa asing secara otodidak, dan menulis puisi dengan kedalaman yang tak lazim untuk usianya. Puisinya yang terkenal, seperti Aku dan Krawang-Bekasi, bukan hanya monumen bahasa, melainkan juga luka dan harapan sebuah bangsa yang sedang lahir.
Sebagai anak muda yang keras kepala, mandiri, dan penuh gairah, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, yang mayoritas baru dikenal setelah kematiannya di usia 27 tahun. Ia adalah api yang menyala cepat, tapi membekas dalam.
Dalam puisinya, hidup terasa lebih jujur dan menusuk. Maka, menjadikan hari kelahirannya sebagai Hari Puisi Indonesia adalah sebuah keputusan yang bukan hanya simbolik, tetapi sarat makna historis dan spiritual.
Merawat Puisi, Merawat Jiwa Bangsa