Agus Budiyanto Aquarelle Studio Gelar Pameran dan Wicara Seni ‘Kebijakan Finansial Berkelanjutan Secara Kreatif untuk Seniman’ di Art Moments 2025

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Jumat, 8 Agustus 2025 | 14:08 WIB
Suasana booth Komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS ) di ArtMoments 2025
Suasana booth Komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS ) di ArtMoments 2025

TINEMU.COM - Jakarta 8 Agustus 2025 - Komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS) yang telah berkiprah selama dua puluh lima tahun dengan anggota ratusan orang yang telah tersebar di Tanah Air, menggelar Wicara Seni khusus pada Sabtu, 9 Agustus 2025 dan Pameran seni bermedium cat air 7-10 Agustus di ajang Art Moments.

“Seniman atau pekerja seni dituntut untuk lebih strategis mengelola waktu, tak hanya berkarya seni untuk berpameran saja. Namun membagi waktu kreatifnya dengan kerja-kerja mandiri dan kolaboratif yang beragam bentuknya” tutur Ketua komunitas seni ABAS, Agus Budiyanto.

Agus yang juga seniman profesional dengan medium water color ini, memberi argumen bahwa selalu ada solusi dan target-target spesial untuk berkarya. Sebab kolektor dan apresian seni tak setiap bulan mengoleksi karya.

“Dengan membuka kelas khusus, membuat workshop kreatif untuk publik, selayaknya kita memiliki target. Yakni memilah dan memilih kreasi untuk berpameran secara serius untuk diapresiasi, atau mencipta untuk kebutuhan elemen-elemen estetik. Semisal membuat karya-karya komisi untuk desain interior dan tentu saja juga menimba ilmu tak ada habisnya di komunitas seni”, kata Agus menambahkan.

Komunitas ABAS dipilih oleh tim Artistik Art Moments untuk tampil dengan sesi khusus Wicara Seni bertajuk ‘Art & Finance: Building Financial Sustainability for Creative Minds’ yang akan digelar pada 9 Agustus 2025 dengan pilihan nara sumber Ketua Komunitas Seni, Kolektor dan Bankir.

Dengan menimbang, pada hajatan Art Moments 2025 yang bertema Restoration, dengan  menampilkan 60 galeri seni dengan lebih 600 seniman dari lokal dan manca negara, sebagai momen melihat kembali relasi dengan alam, manusia, dan entitas makhluk hidup lainnya agar lebih dekat secara emosional.

Hal itu terelasi dengan komunitas ABAS yang memang menjalin ikatan emosi secara dekat dengan para anggotanya yang beragam latar belakang. Seperti arsitek, bankir, sampai desainer dan profesional lain untuk tertantang memberi kontribusi via perwakilan komunitasnya dalam Wicara Seni dengan pengalaman panjangnya.

Salah satu anggota komunitas ABAS, Vera Eve Lim menyebut bahwa sejak awal para pekerja kreatif dan seniman selayaknya punya rekam jejak secara riil pada institusi finansial seperti Bank.

Booth Komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS) di ArtMoments 2025
Booth Komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS) di ArtMoments 2025

“Literasi finansial dibutuhkan untuk membuat tata-kelola yang baik dalam kelangsungan berkarya. Salah satunya adalah rekam jejak di perbankan merupakan sebuah investasi jangka panjang dalam setiap kerja-kerja yang lebih kreatif dan tentunya berpengaruh pada jenjang karir profesional di masa depan” kata Chief Financial Officer BCA dan seorang pelukis cat air ini.

Vera menambahkan bahwa disiplin mengelola keuangan tentunya akan memudahkan serta membantu perencanaan keuangan bagi seniman. Sementara, Kolektor seni dan praktisi hukum Daniel Ginting, yang juga secara emosi terkait dengan komunitas ABAS menyebut bahwa kerja-kerja kreatif seorang seniman semestinya adalah bagian dari ikhtiar menumbuhkan cakrawala lebih luas.

“Saya menyukai seniman yang setapak demi setapak membangun pengalaman dan cakrawala pengetahuannya dan hasil karya tiap saat makin maju. Jangan takut untuk selalu menimba ilmu dari manapaun yang akan memperkaya wawasan, termasuk bergabung dengan komunitas-komunitas seni”, ujar lawyer dan konsultan di beberapa geleri seni ini, yang mengoleksi karya-karya seniman lokal berkualiatas.

Dalam Pandangan Daniel, seperti ia mencontohkan satu saat ia memberi ide pada seorang kurator seni dan telah direalisasikan dengan sebuah event eksibisi khusus, seniman-seniman ditantang nalar dan rasa mereka dengan menafsir ulang sebuah karya seorang maestro seni Indonesia.

“Seniman selayaknya selalu berpikir dan bertindak progresif dan kreatif, tentu secara terukur agar kolektor seni dan ekosistem seni semacam organizer, kurator, jurnalis dan kolektor selalu menunggu karya-karya termutakhirnya dengan rasa penasaran. Niscaya, ini membuahkan secara tak langsung sebuah strategi finasial berkelanjutan dikemudian hari yang bisa dipetik”, ujar Daniel antusias.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X