Napak Tilas Seni Hendra Hadiprana: Jejak Arsitek, Kolektor, dan Sahabat Seniman

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 16:03 WIB
Pameran Retrospeksi karya koleksi ‘NAPAK TILAS SENI’ Hadiprana Gallery, Ground Floor, Jl. Kemang Raya No.30 Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Pameran Retrospeksi karya koleksi ‘NAPAK TILAS SENI’ Hadiprana Gallery, Ground Floor, Jl. Kemang Raya No.30 Jakarta Selatan, DKI Jakarta

TINEMU.COM - Jakarta – Di tengah hiruk pikuk perkembangan seni rupa Indonesia, nama Hendra Hadiprana tetap berdiri sebagai salah satu pilar penting. Arsitek visioner sekaligus kolektor seni ini bukan hanya meninggalkan bangunan, tetapi juga warisan kultural berupa ruang yang memuliakan karya seniman Indonesia.

Untuk mengenang kiprahnya, keluarga Hadiprana menggelar Pameran Retrospeksi “Napak Tilas Seni” pada 23 Agustus – 15 September 2025, sebuah perayaan yang bertepatan dengan bulan kelahiran Hendra sekaligus HUT ke-80 Republik Indonesia.

Pameran ini menampilkan jejak perjalanan seni Hendra Hadiprana lewat koleksi-koleksi langka yang ia kumpulkan sepanjang hidupnya. Dari maestro seni modern Indonesia seperti Gregorius Sidharta Soegijo, A.D. Pirous, Srihadi Soedarsono, Jeihan, Yusuf Affendi, hingga nama-nama muda yang pernah menjadi mitra dan sahabatnya: Wayan Bawa Antara, Made Gunawan, Putu Bonus, dan Ketut Seno.

Made Gunawan “Swasembada” (Prosperity) 120x100 cm, Acrylic  on canvas 2025
Made Gunawan “Swasembada” (Prosperity) 120x100 cm, Acrylic on canvas 2025

Seni sebagai Ingatan yang Hidup

Putri sulung Hendra, Puri Hadiprana, yang kini meneruskan estafet di bidang seni, arsitektur, dan desain, menyebut pameran ini bukan sekadar retrospeksi.
“Pameran sejatinya, selain mengenang kelahiran ayah, juga mensakralkan perayaan kemerdekaan Indonesia ke-80. Ini adalah cara menengok ulang ingatan sejarah tentang kecintaannya pada seni modern Indonesia,” ujar Puri.

Ia menambahkan bahwa “Napak Tilas” adalah upaya meneguhkan kembali bahwa seni selalu hadir dengan kejujuran lintas zaman. “Seperti ayah saat pertama terpikat pada seni modern, koleksi-koleksi ini adalah bukti cinta yang tak pernah mati,” ungkapnya.

Puri masih mengingat jelas bagaimana titik awal perjalanan ayahnya sebagai kolektor. Pada 1957, baru pulang dari studi di Akademik Minerva, Groningen, Belanda, Hendra muda terpikat pada sebuah lukisan monumental: Penyaliban Yesus karya Gregorius Sidharta yang terpajang di Hotel Des Indes. Butuh waktu setahun baginya untuk mengupayakan agar lukisan itu menjadi koleksi pertama. Sejak itulah, seni tak pernah lepas dari hidupnya.

Arsitektur, Seni, dan Kehidupan

Bagi Hendra Hadiprana yang akrab disapa Om Henk: arsitektur tak pernah berdiri sendiri. Ia memandang rumah, ruang publik, bahkan bangunan komersial sebagai kanvas yang perlu dihidupkan dengan seni rupa. “Pertanyaan terpenting bagi ayah adalah bagaimana arsitektur dan interior bukan hanya tempat, tetapi juga seni yang memiliki sentuhan personal,” kenang Puri.

Falsafah itu yang membuat setiap karya arsitektur Hendra terasa berbeda. Seni baginya bukan dekorasi, melainkan jiwa yang menyatu dengan desain. “Arsitektur adalah cara hidup, sebuah sikap untuk menghargai seni dan budaya. Arsitektur dan seni-budaya adalah bagian integral yang tak terpisahkan,” ujar Hendra suatu ketika.

Foto dok Hadiprana
Foto dok Hadiprana

Sahabat Seniman Indonesia

Bagi Johanda, manajer Galeri Hadiprana yang telah mendampingi lebih dari 26 tahun, warisan terbesar Hendra bukan hanya bangunan atau koleksi, melainkan persahabatan.
“Om Henk selalu mengatakan seniman Indonesia tak kalah dengan Eropa. Ia bukan sekadar membeli karya, tetapi mengamati perkembangan, mendukung dengan hati, dan merasakan kebahagiaan bisa bersahabat dengan mereka,” ungkap Johanda.

Itulah sebabnya hubungan Hendra dengan banyak perupa tak pernah sekadar profesional. Ia membina, mensponsori, bahkan memberi ruang berpameran, namun yang terpenting: ia hadir sebagai sahabat yang percaya bahwa seni adalah cerminan kecerdasan, hati, dan jiwa bangsa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X