TINEMU.COM - Jakarta — Sebuah perhelatan sastra lintas negara akan terasa semakin istimewa ketika ia dibuka dengan sentuhan budaya lokal. Itulah yang akan terjadi pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (PPN XIII), yang digelar di Jakarta pada 11–14 September 2025.
Para penyair dari berbagai negara Asia Tenggara akan disambut bukan hanya dengan tepuk tangan dan sambutan resmi, tetapi juga melalui tradisi Betawi Uluk Sapun, sebuah prosesi penyambutan tamu yang sarat makna dan doa.
Menyambut dengan Sopan, Menghormati dengan Budaya
Secara harfiah, Uluk Sapun atau disebut juga Nyapun: berarti memberi salam dengan sopan. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk penghormatan dalam adat Betawi. Bagi masyarakat Betawi, menyambut tamu bukan sekadar basa-basi, melainkan ritual yang meneguhkan niat tulus untuk memuliakan siapa pun yang datang.
Menurut budayawan sekaligus penyair Yahya Andi Saputra, ada sejumlah cara masyarakat Betawi dalam menerima tamu agung. “Selain Buka Palang Pintu dan Nyelèmpang Cukin, kita juga punya tradisi Uluk Sapun. Intinya, semua itu adalah bentuk penghormatan, memuliakan yang hadir,” ujarnya.
Pilihan penyelenggara PPN XIII untuk menghadirkan Uluk Sapun dalam pembukaan acara seolah menegaskan bahwa pertemuan ini bukan hanya sekadar agenda sastra, melainkan juga ruang perjumpaan budaya.
Jampe: Salam yang Menjadi Doa
Keistimewaan Uluk Sapun terletak pada prosesi jampe, yaitu untaian kata atau kalimat yang dipercaya membawa daya gaib berupa kenyamanan dan perlindungan. Jampe bukan sekadar ucapan sambutan, melainkan doa yang merangkum harapan tuan rumah kepada tamu.
Dalam pelaksanaannya, jampe berisi tiga inti: menyambut kedatangan tamu, memohon kelancaran jalannya acara, serta meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa bagi seluruh yang hadir. Karena jampe bersifat mantra, penyampaiannya dilakukan dengan cara enggeriyeng: yaitu dilagukan, bukan sekadar diucapkan.
Nada yang mengalun dari mulut penyambut ibarat getaran doa yang meneduhkan. Para tamu, termasuk para penyair dari seantero Nusantara dan negara-negara Asia Tenggara, akan merasa tidak hanya diterima, tetapi juga dipayungi restu.
“Melalui Uluk Sapun, para penyair Nusantara dan Asia Tenggara disambut secara terhormat sesuai akar budaya Betawi, sekaligus kita memohon restu agar acara berlangsung khidmat dan lancar,” jelas Yahya.
Sastra Bertemu Tradisi
Pertemuan Penyair Nusantara bukanlah agenda baru. Sejak pertama kali digagas pada awal 2000-an, forum ini telah menjelma sebagai ruang silaturahmi kreatif bagi para penyair dari berbagai latar kebudayaan. Tahun ini, PPN XIII memilih Jakarta sebagai tuan rumah—sebuah pilihan yang terasa pas, karena Jakarta bukan hanya ibu kota negara, tetapi juga rumah bagi ragam tradisi, terutama Betawi.
Membuka acara dengan Uluk Sapun menegaskan hubungan erat antara sastra dan budaya. Puisi pada dasarnya juga doa, juga mantra, meski dengan bentuk yang berbeda. Maka ketika para penyair disambut dengan jampe yang dilagukan, ada resonansi yang terasa: antara kata-kata sakral tradisi dengan kata-kata indah puisi.