Karya “Nanro” (2025) adalah doa untuk mereka yang menjalani perjalanan pulang, entah ke rumah atau ke pangkuan keabadian. Sementara “Kisah Zinnia” (2025) menjadi alegori tentang pengorbanan yang akhirnya mekar menjadi bunga indah. Semua karyanya bernafas sebagai catatan penyembuhan—healing journey—yang tak hanya pribadi, tetapi juga kolektif.
Latar belakang Emira di bidang arsitektur interior memberi dimensi tambahan pada komposisinya. Ia terbiasa menata ruang, lalu kini menata batin di atas kanvas. Prestasinya pun tak sedikit, mulai dari juara kompetisi desain hingga tampil di berbagai pameran komunitas.
Maria Solimin: Suara yang Kembali
Jika Nana bicara lewat biomorfik dan Emira lewat narasi personal, Maria Solimin justru berangkat dari pengalaman kehilangan suara. Bertahun-tahun ia membungkam dirinya demi kedamaian sekitar, sampai lupa apa yang sebenarnya ia rasakan. Karya-karyanya menjadi usaha menemukan kembali suara hati yang lama terkubur.
Inspirasi Maria datang dari dunia anak-anak, di mana gambar-gambar autentik sering menjadi cermin kesehatan mental. Dari situ, ia belajar bahwa imajinasi yang menekan diri bisa meledak menjadi suara yang keras, menuntut untuk didengar.
Dalam “It’s Alright. It’s Gonna Be Fine” (2025), ia menyoal optimisme: apakah ia sungguh menyembuhkan, atau justru racun yang menuntut semua orang selalu tampak baik-baik saja? Pada karya “Evaporate” (2025), ia menggambarkan kelelahan untuk terus terlihat berharga di mata orang lain. Sedangkan “The Fresh, The Salty and The Murky” (2025) berangkat dari Yakobus 3:11, menanyakan: bisakah satu sumber memancarkan air yang segar sekaligus keruh?
Maria telah aktif di berbagai pameran internasional, dari Kuala Lumpur, Busan, hingga Seoul. Ia juga pemenang kontes kustom mainan seni di Singapura. Jejaknya yang lintas medium dan lintas kota membuat suaranya semakin relevan: personal tapi juga universal.
Dialog yang Berlapis
Secara keseluruhan, pameran ini menghadirkan 14 karya lukisan dan sejumlah sketsa. Namun lebih dari sekadar deretan kanvas, Moonveils adalah ruang percakapan. Para seniman menyingkap tabir satu per satu: tubuh, suara, perasaan, hingga sistem sosial yang membentuk perempuan. Tidak ada jawaban tunggal, tetapi justru undangan untuk masuk ke ruang refleksi yang berlapis-lapis.
Para host pembukaan: Tom Tandio, Dedy Koswara, dan Budi Kurniawan, mengarahkan suasana menjadi hangat dan cair. Mereka bukan sekadar memperkenalkan seniman, tetapi juga mengajak audiens untuk membaca karya-karya ini dengan hati terbuka.
Mengapa “If You Know, You Know”?
Kalimat itu menjadi semacam jantung pameran. Ia adalah pengingat bahwa pengalaman perempuan sering terbungkus kode-kode terselubung. Ada yang bisa ditertawakan bersama, ada yang hanya bisa dipahami dalam diam.
Penonton, terutama perempuan, mungkin menemukan potongan dirinya dalam lukisan-lukisan ini. Bagi yang lain, pameran ini bisa menjadi jendela untuk memahami pengalaman yang berbeda.
Akhirnya, Moonveils bukan sekadar ajang seni visual, melainkan percakapan intim. Percakapan tentang tubuh, tentang luka, tentang daya pulih, dan tentang solidaritas yang hadir bahkan tanpa kata.
Pameran ini berlangsung hingga 12 Oktober 2025 di Kendys Gallery, Jakarta Pusat. Bagi siapa pun yang penasaran, silakan datang. Sebab seperti namanya, tabir ini hanya terbuka bagi mereka yang berani menyimak. Dan, ya—if you know, you know.***