8 Seniman Asia Tenggara-Korea Respons Batuan Prasejarah dengan Media Digital

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Selasa, 30 September 2025 | 12:34 WIB
official poster World Heritage Festival 2025 (istimewa)
official poster World Heritage Festival 2025 (istimewa)

The Fox, The Folks (Indonesia). Tim seniman multimedia asal Bandung spesialis animasi 2D, motion graphic, dan projection mapping. Karya mereka, Porta Petra, mengangkat dolmen sebagai saksi sekaligus asal mula kehidupan.

MXC Creative Studio (Vietnam). Studio digital art dari Ho Chi Minh City berfokus pada pengalaman visual 3D dan desain grafis. Kali ini mereka akan mengusung konsep perjalanan ke dalam diri, meleburkan ingatan dan waktu, membuka ruang untuk menafsirkan ulang makna kemanusiaan.

Baca Juga: JICAF 2025 Hadirkan Pengalaman Seni Lintas Batas Lebih Besar, Eksperimental, dan Inklusif

Keboyotan (Malaysia). Aliff Firdaus, motion artist yang menekuni tema memori dan emosi. Karyanya Dua Bumi menghubungkan dolmen Gochang dengan batu megalitik Sarawak, menjadikannya portal lintas ruang dan waktu.

Fearmos (Indonesia). Tim kecil asal Surabaya yang baru menekuni video mapping sejak 2024. Karya mereka menampilkan dolmen sebagai jembatan reflektif antara bumi dan kosmos.

Khaery Chandra (Indonesia). Juga dikenal sebagai Saeki, adalah motion designer asal Jawa Tengah. Karyanya Infinite Convergence mengeksplorasi pertemuan sakral jiwa yang melebur dengan alam semesta, melampaui bentuk dan batas.

Baca Juga: Luncurkan League of Extraordinary Youth U-18, JICAF & KAHF Buka Ruang Kreatif Bagi Kreator Muda

Malik I (Indonesia). Seniman 3D asal Bandung, menghadirkan dolmen sebagai pilar mistis di tengah dunia yang terus berubah. Karyanya terinspirasi kartu tarot Wheel of Fortune, menggambarkan siklus penciptaan, keruntuhan, dan kelanjutan hidup.

Media wall di lantai 1 Museum Dolmen Gochang, Gochang, Korea Selatan
Media wall di lantai 1 Museum Dolmen Gochang, Gochang, Korea Selatan

Adani Zata & Rainerius Raka (Indonesia). Kolaborasi mereka menggabungkan desain grafis dan motion design. LAKU, karya mereka kali ini menampilkan perjalanan simbolis dari Gunung Merapi hingga Laut Selatan, menggambarkan proses spiritual manusia.

Lee Yoon Su (Korea Selatan). Seniman tuan rumah yang akan memberi konteks lokal budaya Korea masa kini, menjembatani tradisi dan masyarakat kontemporer.**
















Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X