TINEMU.COM - Dalam pada itu dengan cepat luar biasa, Li Su-lam yang mengapung di udara itu terus menggempur pula ke bawah. Cepat si Lama menangkis dengan tongkatnya. Pedang Su-lam menutul batang tongkat lawan, kembali ia berjumpalitan di atas, lalu tancap kaki dengan tegak di atas tanah.
Melihat beberapa kali jurus pedang Li Su-lam itu, laki-laki pendek tadi terkejut, serunya, “Kiranya adalah murid Kok Peng-yang. Baik, aku ingin berkenalan dengan kau punya Tat-mo-kiam-hoat.”
Meski perawakan orang itu pendek kecil, tapi sangat gesit, tahu-tahu ia sudah menubruk maju, senjatanya terdiri dari sepasang Boan-koan-pit, di tengah berkelebatnya sinar pedang
dan bayangan tongkat tiba-tiba ia pun menerjang maju. Kedua senjata bentuk pensil menyerang sekaligus yang satu menotok “Ki-bun-hiat,” yang lain mengarah “Hian-hay-hiat”.
Kedua tempat ini adalah hiat-to mematikan di tubuh manusia. “Ilmu Tiam-hiat yang keji!” bentak Su-lam. Cepat tubuhnya berputar, sekaligus ia tangkis tongkat Si Lama, berbareng menangkis pula totokan pensil si pendek.
“Bagus!” Mau tak mau Si Pendek memberi pujian atas ketangkasan lawan.
Baca Juga: Siap-siap, KAI Buka Rekrutmen di Job Fair UNS Pada 10-11 Mei
Nyo Wan bermaksud membantu Su-lam, tapi laki-laki Sehe yang bengis tadi telah mulai memburu ke tempat sembunyi orang yang terluka tadi.
“Cegah dia!” seru Su-lam.
Tanpa ayal Nyo Wan lantas menjulurkan pedangnya sambil membentak, “Mundur sana!”
Semula laki-laki Sehe itu anggap sepele kepada Si Nona, dengan cengar cengir ia menjawab, “Eh, nona cantik, kenapa begini galak?” Dengan tangan kosong ia terus hendak
merebut pedang Nyo Wan.
Orang itu mengira Nyo Wan cuma nona cilik yang masih muda belia, betapapun kepandaiannya juga terbatas. Tak terduga ilmu pedang Nyo Wan adalah ilmu pedang Go-bi-pay ajaran kakaknya sendiri. Ilmu pedang Go-bi-pay mengutamakan kegesitan dengan gerak serangan yang lincah dan aneh.
Mendadak ujung pedang miring ke samping tahu-tahu menebas kembali dari arah yang tak tersangka. Sinar pedang berkelebat, sepotong jari laki-laki itu telah tertebas. Keruan laki-laki Sehe itu berjingkrak kesakitan, kaget dia dan gusar pula. Sebaliknya kawannya orang Han malah tertawa dan berkata, “Makanya jangan kau sok merayu segala. Paling perlu bekuk dulu betina itu.”
Baca Juga: Jalur Sukatani - Ciganea Sudah Bisa Dilalui Kereta Api dengan Kecepatan Terbatas
Orang Sehe itu lantas membentak dengan murka, “Kurang ajar! Yakin kau mampu lolos dari genggamanku?”
Segera ia lolos goloknya terus menubruk ke arah Nyo Wan disertai pukulan dan bacokan. Rupanya ia telah menerima pendirian kawannya untuk membekuk Nyo Wan sekalipun nanti mesti melukai Si Nona.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (53)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (54)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (55)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (56)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (57)