Coldplay Lebih dari Sekedar Permainan Musik yang Dingin

photo author
Khudori Husnan, Tinemu
- Jumat, 19 Mei 2023 | 14:58 WIB
Foto (REUTERS/CHRISTOPHER PIKE)
Foto (REUTERS/CHRISTOPHER PIKE)

TINEMU.COM - Coldplay. Seperti namanya, warna musik dari lagu-lagu yang dimainkan grup musik asal London ini terkesan dingin, murung dan misterius. Band besar lain yang juga konsisten memainkan musik yang selaras dengan nama grupnya, antara lain, adalah The Beatles; dari kata 'beat'yang mencerminkan semangat suatu masa  di belahan Eropa era 60-an, yang larut dalam berbagai eksperimen artistik. 

Lagu-lagu Coldplay  merupakan  kristalisasi dari visi besar para personilnya yakni Chris Martin, Jonny Buckland, Guy Berryman dan Will Champion yang coba diinjeksikan  ke dalam lirik dan  musik.   Dalam arti ini, lagu-lagu   Coldplay merefleksikan sebuah proses kreatif di mana  musikalitas didasarkan pada sebuah  gagasan tertentu.

Coldplay menggebrak blantika musik dunia dengan corak  musik balada  minimalis seperti bisa kita nikmati keindahannya dalam lagu-lagu   di album pertama Coldplay antara lain  Don't Panic, Trouble dan Yellow. Mendengarkan lagu-lagu ini kita, setidaknya seperti yang saya rasakan,  seperti terbius dalam suasana  gelap dan dingin.

Baca Juga: Erajaya Digital Gelar Turnamen Nasional Mobile Legends, Total Hadiah Rp 200 juta

Dengan gaya bermusik yang mengingatkan pada  lagu-lagu U2 dan suasana musikal ala Radiohead, Coldplay pelan tapi pasti  mulai menapaki industri musik dunia. Kendati begitu pekat pengaruh U2, Radiohead, Travis dan penyanyi solo asal Los Angeles  Jeff Buckley,  Coldplay dengan permainan suara falsetto Chris Martin itu, tetap bisa mempertahankan keunikan warna musik  mereka sendiri.

Sebelum meluncurkan album ke-1 Parachutes (2000), Coldplay tercata sempat merilis album secara independen bertajuk Safety (1998), lagu-lagu dalam Safety adalah lagu-lagu embrionik yang kelak terlahir di Parachutes terutama lagu Don't Panic yang menggabungkan unsur-unsur low-fi dengan melodi akustik khas komplotan indie dan folk. 

Parachutes dengan lagu-lagu yang kelak dikenang sebagai  Coldplay "banget" khususnya lagu Yellow, meraih sukses besar. Pekan pertama sejak perilisan,  Parachutes sudah terjual 75.000 copy dan mendekati akhir  2000, album ini terjual  900.000 copy di Inggris. Coldplay pun berhasil menyabet penghargaan BRIT Awards untuk kategori Album Terbaik dan Band Inggris Terbaik.

Baca Juga: Pesona Pulau Moyo Pikat Selebritas Dunia, Dari Putri Diana Hingga David Beckham

Kreatifitas Coldplay semakin menggelegak di album ke-2  A Rush Of Blood To The Head yang memuat lagu-lagu, yang keseluruhan sangat enak untuk dinikmati dari mulai  lagu pembuka Politik yang penuh hentakan  disusul In My Place. Ada pula  lagu Daylight yang mengejutkan karena diawali permainan musik menyerupai sitar dan  Green Eyes yang teduh seteduh telaga, lalu Clocks dan The Scientist dengan alunan piano yang mengesankan.

Di Amerika Serikat, album ini menduduki posisi ke-5 daftar lagu-lagu top. Di Indonesia sendiri, In My Place seperti lagu wajib yang selalu diputar di radio-radio dan tayangan televisi. Dua album pertama dari  Coldplay inilah yang membuat  Coldplay sejajar dengan superstar dunia sekelas U2 dan R.E.M.

Selanjutnya di 2005 meluncur album ke-3, X & Y yang  lembut dan mendayu-dayu dengan ramuan lirik dan musik yang puitik seperti termaktub dalam Fix You. Album ini sukses menduduki peringat pertama daftar lagu Billboard200 dan terjual sebanyak 8,3 juta copy pada akhir 2005. Lewat album ke-4  Viva La Vida Or Death And All His Friends, Coldplay semakin menunjukan keperkasaan pada panggung  musik mancanegara.

Baca Juga: Buku dan Peringatan

Album Viva La Vida terasa istimewa karena Coldplay berkolaborasi dengan musisi legendaris David Bowie dan produser U2 Brian Eno.  Lagu-lagu di album Viva La Vida sukses menghadirkan sensasi menikmati musik yang ciamik dan belum ada presedennya di album-album Coldplay sebelumnya. Lagu-lagu dalam Viva La Vida terdengar lebih artistik, optimistik dan penuh semangat yang menyala-nyala.

Kebaruan dalam berkreasi dan mengekspolrasi warna musik terus dilakukan Coldplay hingga kemudian terlahir album ke-5 Mylo Xyloto dengan lagu-lagu andalan seperti  Every Teardrop Is A Waterfall dan  Paradise, dua lagu yang cukup membuat kritkus musik kerepotan menempatkannya ke dalam jenis genre apa.  Pasalnya, dua lagu ini dianggap telah melintasi pagar pembatas genre musik. Di album ini Coldplay juga berkolaborasi dengan penyanyi R&B terkenal Rihanna di lagu Princess of China.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X