TINEMU.COM - Coldplay. Seperti namanya, warna musik dari lagu-lagu yang dimainkan grup musik asal London ini terkesan dingin, murung dan misterius. Band besar lain yang juga konsisten memainkan musik yang selaras dengan nama grupnya, antara lain, adalah The Beatles; dari kata 'beat'yang mencerminkan semangat suatu masa di belahan Eropa era 60-an, yang larut dalam berbagai eksperimen artistik.
Lagu-lagu Coldplay merupakan kristalisasi dari visi besar para personilnya yakni Chris Martin, Jonny Buckland, Guy Berryman dan Will Champion yang coba diinjeksikan ke dalam lirik dan musik. Dalam arti ini, lagu-lagu Coldplay merefleksikan sebuah proses kreatif di mana musikalitas didasarkan pada sebuah gagasan tertentu.
Coldplay menggebrak blantika musik dunia dengan corak musik balada minimalis seperti bisa kita nikmati keindahannya dalam lagu-lagu di album pertama Coldplay antara lain Don't Panic, Trouble dan Yellow. Mendengarkan lagu-lagu ini kita, setidaknya seperti yang saya rasakan, seperti terbius dalam suasana gelap dan dingin.
Baca Juga: Erajaya Digital Gelar Turnamen Nasional Mobile Legends, Total Hadiah Rp 200 juta
Dengan gaya bermusik yang mengingatkan pada lagu-lagu U2 dan suasana musikal ala Radiohead, Coldplay pelan tapi pasti mulai menapaki industri musik dunia. Kendati begitu pekat pengaruh U2, Radiohead, Travis dan penyanyi solo asal Los Angeles Jeff Buckley, Coldplay dengan permainan suara falsetto Chris Martin itu, tetap bisa mempertahankan keunikan warna musik mereka sendiri.
Sebelum meluncurkan album ke-1 Parachutes (2000), Coldplay tercata sempat merilis album secara independen bertajuk Safety (1998), lagu-lagu dalam Safety adalah lagu-lagu embrionik yang kelak terlahir di Parachutes terutama lagu Don't Panic yang menggabungkan unsur-unsur low-fi dengan melodi akustik khas komplotan indie dan folk.
Parachutes dengan lagu-lagu yang kelak dikenang sebagai Coldplay "banget" khususnya lagu Yellow, meraih sukses besar. Pekan pertama sejak perilisan, Parachutes sudah terjual 75.000 copy dan mendekati akhir 2000, album ini terjual 900.000 copy di Inggris. Coldplay pun berhasil menyabet penghargaan BRIT Awards untuk kategori Album Terbaik dan Band Inggris Terbaik.
Baca Juga: Pesona Pulau Moyo Pikat Selebritas Dunia, Dari Putri Diana Hingga David Beckham
Kreatifitas Coldplay semakin menggelegak di album ke-2 A Rush Of Blood To The Head yang memuat lagu-lagu, yang keseluruhan sangat enak untuk dinikmati dari mulai lagu pembuka Politik yang penuh hentakan disusul In My Place. Ada pula lagu Daylight yang mengejutkan karena diawali permainan musik menyerupai sitar dan Green Eyes yang teduh seteduh telaga, lalu Clocks dan The Scientist dengan alunan piano yang mengesankan.
Di Amerika Serikat, album ini menduduki posisi ke-5 daftar lagu-lagu top. Di Indonesia sendiri, In My Place seperti lagu wajib yang selalu diputar di radio-radio dan tayangan televisi. Dua album pertama dari Coldplay inilah yang membuat Coldplay sejajar dengan superstar dunia sekelas U2 dan R.E.M.
Selanjutnya di 2005 meluncur album ke-3, X & Y yang lembut dan mendayu-dayu dengan ramuan lirik dan musik yang puitik seperti termaktub dalam Fix You. Album ini sukses menduduki peringat pertama daftar lagu Billboard200 dan terjual sebanyak 8,3 juta copy pada akhir 2005. Lewat album ke-4 Viva La Vida Or Death And All His Friends, Coldplay semakin menunjukan keperkasaan pada panggung musik mancanegara.
Baca Juga: Buku dan Peringatan
Album Viva La Vida terasa istimewa karena Coldplay berkolaborasi dengan musisi legendaris David Bowie dan produser U2 Brian Eno. Lagu-lagu di album Viva La Vida sukses menghadirkan sensasi menikmati musik yang ciamik dan belum ada presedennya di album-album Coldplay sebelumnya. Lagu-lagu dalam Viva La Vida terdengar lebih artistik, optimistik dan penuh semangat yang menyala-nyala.
Kebaruan dalam berkreasi dan mengekspolrasi warna musik terus dilakukan Coldplay hingga kemudian terlahir album ke-5 Mylo Xyloto dengan lagu-lagu andalan seperti Every Teardrop Is A Waterfall dan Paradise, dua lagu yang cukup membuat kritkus musik kerepotan menempatkannya ke dalam jenis genre apa. Pasalnya, dua lagu ini dianggap telah melintasi pagar pembatas genre musik. Di album ini Coldplay juga berkolaborasi dengan penyanyi R&B terkenal Rihanna di lagu Princess of China.