temu-serasi

Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (309)

Senin, 15 Januari 2024 | 09:00 WIB
cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

TINEMU.COM - Waktu itu hari sudah terang benderang, terpaksa Han Ciau hanya dapat menguntit dari jauh dan tidak berani terang-terangan menghadapi To Liong.

Untung jago-jago pengawal yang tugas jaga di taman itu itu semuanya kenal To Liong, sedangkan Han Ciau disangka oleh pengawal-pengawal itu sebagai kawan sendiri yang sengaja ditugaskan mengawasi To Liong, tidak ada yang menduga bahwa Han Ciau sudah mengkhianati Yang Thian-lui.

Begitulah To Liong sengaja mengulur waktu, diam-diam ia menghimpun tenaga untuk membuka Hiat-to yang tertotok.

Sampai lama sekali akhirnya mereka sampai di tempat tahanan Li Su-lam, sementara itu tenaga To Liong sudah mulai terkumpul, kekuatannya sudah mulai pulih.

Sementara itu Ci In-hong dan Kok ham-hi yang menyamar sebagai pengiring Liu Tong-thian serta Cui Tin-san, menjelang lohor mereka pun memasuki istana Koksu.

Dalam keadaan menyamar ternyata tiada orang mengenali Ci In-hong lagi. Yang Thian-lui menerima Liu Tong-thian dan Cui Tin-san di suatu kamar rahasia, tapi Ci In-hong dan Kok Ham-hi dilarang ikut masuk, mereka diharuskan menunggu di luar.

Pada kamar rahasia itu terpasang satu pintu angin yang di atasnya terbingkai sebuah cermin tembaga yang mengkilap, dari cermin itu Yang Thian-lui dapat melihat orang di luar kamar, sebaliknya orang di luar tidak dapat melihat keadaan di dalam.

Ketika melihat Ci In-hong, hati Yang Thian-lui tergerak, ia merasa perawakan orang ini sudah pernah dikenalnya. Maklumlah, Yang Thian-lui pernah susiok Ci In-hong dan telah mengenalnya sekian lama, sebab itulah dari perawakan Ci In-hong saja sudah lantas menimbulkan curiganya.

Maka ketika sudah berada didalam kamar rahasia dan duduk berhadapan dengan Liu dan Cui berdua, segera Yang Thian-lui bertanya, “Siapakah kedua orang pengikutmu itu?”

“Ah, hanya dua Thaubak kecil kami, karena tenaganya cekatan, maka kami membawa mereka sebagai pesuruh kalau perlu,” kata Liu Tong-thian.

“Thaubak kecil? Kukira tidak betul. Jika begitu halnya, maka kalian yang telah salah menilai mereka,” ujar Yang Thian-lui dengan tertawa.

Diam-diam Liu Tong-thian berkeringat dingin, ia pikir bangsat she Yang ini sungguh lihai, belum lagi berhadapan dengan Ci In-hong berdua sudah mengetahui ketidakberesan penyamaran mereka.

Maka dengan pura-pura gugup Liu Tong-thian menjawab, “Entah apa maksud Koksu, sudilah kiranya memberi penjelasan.”

“Kedua Thaubak kalian ini memiliki lwekang yang tidak rendah, sebab itulah kukatakan kalian telah salah menilai kemampuan mereka bila betul kalian kerjakan mereka sebagai Thaubak biasa,” kata Yang Thian-lui.

Rupanya dari cermin rahasia dapat dilihatnya kedua pelipis Ci In-hong dan Kok ham-hi rada menonjol, hal ini adalah tanda orang yang memiliki dasar lwekang yang kuat.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB