Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (309)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Senin, 15 Januari 2024 | 09:00 WIB
cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

Terdengarlah suara gemuruh yang keras. Ci In-hong dan Kok ham-hi tergetar mundur tiga tindak, Yang Thian-lui juga tergeliat, cuma tidak sampai menggeser langkah.

Keruan terkejut juga Yang Thian-lui, ia merasa dengan gabungan kedua anak muda itu untuk mengalahkan sedikitnya juga perlu ratusan jurus lagi.

Dalam pada itu, dengan cepat luar biasa Liu Tong-thian dan Cui Tin-san juga lantas turun tangan.

Sekaligus pedang Liu Tong-thian menusuk beberapa tempat berbahaya di tubuh Yang Thian-lui, sedangkan Cui Tin-san menghantam dengan tenaga dahsyat.

Yang Thian-lui benar-benar lihai luar biasa, cepat sekali ia menggeser dan ganti tempat, sekali lengan bajunya mengebas, ujung pedang Liu Tong-thian tersampuk menceng, berbareng telapak tangan kiri menghantam sehingga Cui Tin-san dipaksa melompat mundur.

Untung dia baru saja beradu tenaga pukulan dengan Ci In-hong berdua, kalau tidak Cui Tin-san pasti terluka parah andaikan tidak mati.

Berbareng Ci In-hong dan Kok Ham-hi membentak, “Yang Thian-lui, kau mengkhianati perguruan, hari ini kami mewakilkan guru kami mengadakan pembersihan perguruan!”

Di tengah bentakan mereka kembali suatu jurus “Lui-tian-kau-hong” dilontarkan. Meski kepandaian Yang Thian-lui sangat tinggi, namun sekaligus menghadapi empat lawan tangguh, mau tak mau ia merasa kewalahan juga.

Terpaksa ia sambut pula serangan Ci In-hong berdua, terdengar suara gemuruh lagi, berbareng terdengar juga suara “bret”, Kok Ham-hi dan Ci In¬hong kembali tergetar mundur, tapi lantaran tidak sempat menghadapi lawan lain, maka lengan baju Yang Thian-lui terpapas juga oleh pedang Liu Tong-thian, hampir-hampir saja jarinya ikut terkutung.

“Pek-lotoa, keluar kau!” teriak Yang Thian-lui. Serentak para busu di ruangan luar dan prajurit yang memang sudah disembunyikan di dalam ruangan lantas membanjir keluar semua.

“Tidak perlu orang banyak!” Seru Yang Thian-lui pula. “Cukup Pek-lotoa dan anak Kian yang tinggal disini, yang lain mundur keluar semua, jaga rapat kalau mereka membawa begundal yang lain.”

Di tengah suara teriakan Yang Thian-lui itu, seorang tua berwajah merah mendadak menubruk ke arah Cui Tin-san, di samping sana seorang pemuda baju putih juga menerjang kearah Liu Tong-thian dengan pedang terhunus.**

(Bersambung) 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X