Terdengarlah suara gemuruh yang keras. Ci In-hong dan Kok ham-hi tergetar mundur tiga tindak, Yang Thian-lui juga tergeliat, cuma tidak sampai menggeser langkah.
Keruan terkejut juga Yang Thian-lui, ia merasa dengan gabungan kedua anak muda itu untuk mengalahkan sedikitnya juga perlu ratusan jurus lagi.
Dalam pada itu, dengan cepat luar biasa Liu Tong-thian dan Cui Tin-san juga lantas turun tangan.
Sekaligus pedang Liu Tong-thian menusuk beberapa tempat berbahaya di tubuh Yang Thian-lui, sedangkan Cui Tin-san menghantam dengan tenaga dahsyat.
Yang Thian-lui benar-benar lihai luar biasa, cepat sekali ia menggeser dan ganti tempat, sekali lengan bajunya mengebas, ujung pedang Liu Tong-thian tersampuk menceng, berbareng telapak tangan kiri menghantam sehingga Cui Tin-san dipaksa melompat mundur.
Untung dia baru saja beradu tenaga pukulan dengan Ci In-hong berdua, kalau tidak Cui Tin-san pasti terluka parah andaikan tidak mati.
Berbareng Ci In-hong dan Kok Ham-hi membentak, “Yang Thian-lui, kau mengkhianati perguruan, hari ini kami mewakilkan guru kami mengadakan pembersihan perguruan!”
Di tengah bentakan mereka kembali suatu jurus “Lui-tian-kau-hong” dilontarkan. Meski kepandaian Yang Thian-lui sangat tinggi, namun sekaligus menghadapi empat lawan tangguh, mau tak mau ia merasa kewalahan juga.
Terpaksa ia sambut pula serangan Ci In-hong berdua, terdengar suara gemuruh lagi, berbareng terdengar juga suara “bret”, Kok Ham-hi dan Ci In¬hong kembali tergetar mundur, tapi lantaran tidak sempat menghadapi lawan lain, maka lengan baju Yang Thian-lui terpapas juga oleh pedang Liu Tong-thian, hampir-hampir saja jarinya ikut terkutung.
“Pek-lotoa, keluar kau!” teriak Yang Thian-lui. Serentak para busu di ruangan luar dan prajurit yang memang sudah disembunyikan di dalam ruangan lantas membanjir keluar semua.
“Tidak perlu orang banyak!” Seru Yang Thian-lui pula. “Cukup Pek-lotoa dan anak Kian yang tinggal disini, yang lain mundur keluar semua, jaga rapat kalau mereka membawa begundal yang lain.”
Di tengah suara teriakan Yang Thian-lui itu, seorang tua berwajah merah mendadak menubruk ke arah Cui Tin-san, di samping sana seorang pemuda baju putih juga menerjang kearah Liu Tong-thian dengan pedang terhunus.**
(Bersambung)
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (305)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (306)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (307)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (308)