Keruan Liu Tong-thian tambah terkejut, katanya, “Pandangan Koksu yang tajam sungguh mengagumkan, sama sekali kami tidak tahu kemampuan mereka, jika benar, maka kami benar-benar berpandangan picik.”
Yang Thian-lui menjadi sangsi pula, tapi berlagak sayang kepada orang yang pandai, segera ia berkata pula, “Orang berbakat tidak pantas kalau terpendam, aku pun tidak berani yakin pandanganku pasti jitu, paling baik suruhlah mereka masuk kemari, biar kulihat mereka lebih jelas.”
Kejut dan girang pula Liu Tong-thian, pikirnya, “Peduli apakah rahasia penyamaran mereka berdua telah diketahui atau tidak, kalau sudah berhadapan nanti toh pasti akan labrak dia habis-habisan.”
Maka ia lantas memanggil Ci In-hong dan Kok Ham-hi masuk kedalam kamar. Ucapan Yang Thian-lui tadi didengar juga oleh pengawal-pengawal yang berjaga di luar, mereka terheran-heran bahwa kedua pengiring rendahan itupun akan diterima oleh Koksuya mereka, terpaksa tak dapat merintangi lagi.
Setelah masuk, Yang Thian-lui mengamati Ci In-hong sekejap, lalu bertanya, ”Siapa gurumu? Dengan kepandaianmu ini, mengapa kau terima menjadi Thaubak kecil saja?”
Ci In-hong menyebut suatu nama samaran sebagai gurunya dan menyatakan kepandaiannya tidak berarti apa-apa, bahkan sangat terima kasih atas kesudian Liu-cecu menerimanya sebagai Thaubak.
Dengan sorot mata yang tajam, sinar mata Yang Thian-lui beralih dari Ci In-hong kepada Kok Ham-hi.
Diam-diam Kok ham-hi kebat-kebit kalau-kalau Yang Thian-lui akan mengajukan pertanyaan apa-apa kepadanya.
Ternyata Yang Thian-lui juga sudah kenal nama Kok Ham-hi, maka sekarang iapun menaruh curiga, hanya saja ia belum berani memastikan bahwa laki-laki bermuka buruk di hadapannya sekarang ini adalah Kok ham-hi.
Sebagaimana diketahui Yang Kian-pek, putra Yang Thian-lui itu sudah pernah bertarung dengan Kok Ham-hi, selama itu Kok Ham-hi memakai kedok, maka Yang Kian-pek hanya yakin kalau Kok ham-hi adalah orang seperguruannya, tapi belum pernah melihat wajah aslinya.
Pulangnya Yang Kian-pek telah melaporkan pengalamannya kepada sang ayah, setelah diselidiki akhirnya Yang Thian-lui mendapat tahu namanya Kok Ham-hi dan diketahui pula ia mempunyai muka yang buruk.
Sekarang meski Kok Ham-hi telah merias mukanya sedemikian rupa toh tetap sukar menghilangkan codet pada mukanya itu.
Karena itulah Yang Thian-lui menjadi curiga, ia pikir kalau si muka buruk ini adalah Kok Ham-hi, maka yang seorang lagi pasti Ci In-hong adanya.
Pantas perawakannya tampak sudah pernah dikenalnya. Tiba-tiba Yang Thian-lui mendapat suatu akal, ia sengaja menjabat tangan Ci In-hong sebagai tanda orang tua menghargai orang muda, tapi sebenarnya ia hendak menjajalnya dengan Thian-lui-kang.
Ci In-hong melihat maksud Yang Thian-lui itu, ia terkejut, tanpa pikir lagi segera ia menggertak, “Lui-tian-kau-hong!” Serentak Kok Ham-hi mengiakan, kedua orang menghantam berbareng, dengan gabungan mereka telah adu pukulan satu kali dengan Yang Thian-lui.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (305)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (306)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (307)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (308)