TINEMU.COM - Kiranya orang tua berwajah merah itu adalah Pek ban-hiong, sesudah Pek-keh-ceng diobrak-abrik oleh Li Su-lam, segera ia bersama putranya, yaitu Pek Jian-seng, melarikan diri ke tempat Yang Thian-lui ini.
Sedangkan pemuda baju putih itu tak perlu diterangkan lagi, dia adalah putra Yang Thian-lui, Yang kian-pek adanya.
Yang Thian-lui cukup kenal kepandaian keempat lawannya yang hebat, bertarung di dalam kamar, bila terlalu banyak orang malah mengganggu dan kurang leluasa, sebab itulah ia suruh orang-orangnya keluar semua, hanya tertinggal Pek ban-hiong dan Yang Kian-pek yang cukup kuat membantunya.
Dengan kedua pembantu ini Yang Thian-lui yakin kemenangan pasti akan dipegangnya. Yang Kian-pek sudah pernah merasakan kelihaian Ci In-hong dan Kok ham-hi, maka sekarang ia lebih suka ayahnya yang menghadapi kedua musuh tangguh itu, ia sendiri mengadu ilmu pedang dengan Liu Tong-thian.
Sebab dikiranya akan mendapat lawan yang lebih empuk. Tak tahunya Liu Tong-thian juga seorang ahli ilmu pedang, kelihaian ilmu pedangnya masih jauh di atas Yang Kian-pek.
Maka hanya beberapa jurus saja Yang Kian-pek sudah lantas tahu rasa, ujung pedang Liu Tong-thian seakan-akan menyambar di depan mukanya, sinar pedang menyilaukan mata.
Keruan ia terkejut, lekas-lekas di tengah samberan pedangnya ia selingi pukulan pula dengan tenaga “Thian-lui-kang”.
Tiba-tiba langkah Liu Tong-thian rada sempoyongan, nyata dia telah mengeluarkan ilmu pedang “Cui-pat-sian” (delapan dewa mabuk), langkahnya seperti tidak tetap bagai orang mabuk, tapi setiap gerak pedangnya selalu mengincar tempat lawan yang berbahaya.
Karena bingung menghadapi tipuan serangan yang aneh itu, Yang Kian-pek menjadi kelabakan, hanya sanggup menangkis dan tidak mampu balas menyerang.
Sebaliknya karena Liu Tong-thian harus menghadapi juga tenaga pukulan Thian-lui-kang lawan, maka beberapa kali serangan maut gagal setengah jalan, tetap tak dapat membinasakan lawan meskipun kedudukannya tetap di atas angin.
Di sebelah lain, dengan kekuatan Pek Ban-hiong yang terlatih berpuluh tahun, keadaannya lebih kuat dibandingkan murid Siau-lim-pay seperti Cui Tin-san.
Ilmu pukulan “Tay-lik-kim-kong-ciang” Cui Tin-san memang keras, tapi kurang mantap. Pek Ban-hiong telah melawannya dengan Bian-ciang yang lemas ditambah dengan Eng-jiau-kang, tenaga cakaran yang lihai, dalam sekejap saja Cui Tin-san sudah terkurung di tengah pukulan dan cakarannya.
Hanya Pek ban-hiong juga rada jeri terhadap ketangkasan Cui Tin-san, maka ia sengaja main tenang dan mantap, kalau tenaga Cui Tin-san sudah terkuras habis baru akan dibereskan.
Di sebelah sana Yang Thian-lui melawan Ci In-hong dan Kok Ham-hi, kedua pihak sama-sama mengeluarkan segenap kemahiran Thain-lui-kang masing-masing, angin pukulan merdu gemuruh, dimana angin pukulan menyambar daun jendela tergelepar dan tiang tergetar, atap rumah berkeriutan.
Sebagian Busu yang berkepandaian lemah sejak tadi sudah menyingkir keluar. Melihat gelagat kurang menguntungkan, seorang busu berseru, “Apakah perlu mengundang Liong-siang Hoat-ong?”