Yang diutamakan Yang Thian-lui adalah lwekang dan kurang mahir ilmu pedang, maka kedua pihak sekarang menjadi sama-sama menggunakan kemahiran masing-masing untuk menyerang kelemahan lawan.
Dengan begini Yang Thian-lui hanya dapat menandingi Kok Ham-hi dan Ci in-hong dengan sama kuat saja, untuk menarik keuntungan menjadi tidak mudah baginya.
Sebaliknya di sebelah sana Cui Tin-san yang menempur Pek Ban-hiong dengan sengit, akhirnya ia menjadi payah.
Sedang partai lain tampak Liu Tong-thian lebih unggul daripada YangKian-pek, hanya dalam waktu singkat ia pun belum dapat mengalahkan pemuda itu.
Diam-diam Ci In-hong menjadi gelisah, pikirnya, “Mengapa Beng-tayhiap dan Han-locianpwe belum nampak muncul?”
Tentang Beng Siau-kang dan Han Tay-wi, sejak pagi-pagi mereka sudah berhasil meyusup ke dalam istana Yang Thian-lui itu, mustahil suara pertempuran yang ramai itu tak didengar oleh mereka.
Sebab itulah Ci In-hong menjadi khawatir jangan-jangan terjadi apa-apa atas diri kedua pendekar tua. Tapi dengan kepandaian mereka yang tinggi, rasanya tiada sesuatupun yang dapat menghalangi mereka.
Tapi mengapa sampai saat ini mereka masih belum muncul?”
Begitulah lantaran bala bantuan yang ditunggu-tunggu belum datang, Ci In-hong berdua menjadi cemas, maka posisi yang sama kuat tadi hanya sebentar saja telah berubah pula, Yang Thian-lui kembali di atas angin dan melancarkan serangan gencar pula.**
(Bersambung)
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (305)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (306)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (307)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (308)