“Tidak perlu!” bentak Yang Thian-lui dengan gusar. “Jika takut enyah dari sini!”
Menurut taksirannya, Yang Kian-pek cukup kuat untuk menahan Liu Tong-thian hingga ratusan jurus, sedangkan Pek Ban-hiong sudah pasti lebih unggul daripada Cui Tin-san.
Dalam keadaan demikian asalkan salah seorang, Pek Ban-hiong atau Yang Thian-lui sendiri dapat mengalahkan lawan dalam waktu singkat, maka dengan segera mereka dapat membantu Yang Kian-pek membereskan Liu Tong-thian, jadi jelas pihak Yang Thian-lui menduduki posisi yang lebih menguntungkan, apalagi dia adalah koksu negeri Kim, sedangkan Liong-siang Hoat-ong adalah Koksu Mongol, kedudukan kedua orang sederajat, mana sudi dipandang rendah dengan minta bantuan kepada tamunya itu.
Sekonyong-konyong Ci In-hong pura-pura memukul, berbareng lantas membentak, “Lihat pedang!”
Cepat sekali pedangnya lantas menusuk. Dalam pada itu Kok Ham-hi juga sudah melolos pedangnya, di tengah pukulannya iapun melancarkan tusukan, nyata kerja sama mereka berdua sangat rapi.
Menghadapi serangan dari muka dan belakang dengan angkuh Yang Thian-lui masih menjengek, “Hm, berani pamer kepandaian yang telah kalian pelajari, keluarkan saja seluruhnya!”
Belum lenyap suaranya pedang Ci in-hong datang menyambar di depan dahinya, hampir saja batok kepalanya tertebas.
Menyusul Kok Ham-hi juga menusuk pula dengan cara tak terduga. Segera Yang Thian-lui mengebas dengan lengan bajunya.
Tak terduga ujung pedang Kok Ham-hi mendadak memutar kesamping dan kembali menyerang dari arah yang tak terpikirkan olehnya.
Terdengarlah suara “bret” yang panjang, hampir setengah lengan baju Yang Thian-lui terobek menjadi potongan kecil-kecil.
Kiranya gerakan pedang Kok ham-hi diserta dengan puntiran sehingga kain baju itu seperti digiling saja. Keruan Yang Thian-lui terkejut dan gusar pula.
Mendadak ia membentak, kedua telapak tangan menghantam sekaligus, dengan jurus “Ya-ma-hun-cong" (kuda liar menyeruduk dua jurusan) ia paksa Ci In-hong berdua mundur.
“Hm, kiranya kalian berhasil meyakinkan pula ilmu pedang perguruan kita, tapi kalian mampu mengalahkan diriku?” jengek Yang Thian-lui.
Walaupun begitu katanya, tapi timbul juga rasa jerinya. Diam-diam ia berpikir tentang saudara seperguruannya, yaitu Hoa Thian-hong yang mengasingkan diri selama belasan tahun, kiranya diam-diam sedang meyakinkan ilmu pedang yang hebat ini dan diajarkan kepada muridnya untuk kemudian hendak menghadapinya.
Tampaknya ilmu pedang yang dimainkan Ci In-hong sekarang bahkan lebih hebat daripada kakek gurunya dahulu.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (305)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (306)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (307)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (308)