Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (310)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Selasa, 16 Januari 2024 | 09:00 WIB
cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

“Tidak perlu!” bentak Yang Thian-lui dengan gusar. “Jika takut enyah dari sini!”

Menurut taksirannya, Yang Kian-pek cukup kuat untuk menahan Liu Tong-thian hingga ratusan jurus, sedangkan Pek Ban-hiong sudah pasti lebih unggul daripada Cui Tin-san.

Dalam keadaan demikian asalkan salah seorang, Pek Ban-hiong atau Yang Thian-lui sendiri dapat mengalahkan lawan dalam waktu singkat, maka dengan segera mereka dapat membantu Yang Kian-pek membereskan Liu Tong-thian, jadi jelas pihak Yang Thian-lui menduduki posisi yang lebih menguntungkan, apalagi dia adalah koksu negeri Kim, sedangkan Liong-siang Hoat-ong adalah Koksu Mongol, kedudukan kedua orang sederajat, mana sudi dipandang rendah dengan minta bantuan kepada tamunya itu.

Sekonyong-konyong Ci In-hong pura-pura memukul, berbareng lantas membentak, “Lihat pedang!”

Cepat sekali pedangnya lantas menusuk. Dalam pada itu Kok Ham-hi juga sudah melolos pedangnya, di tengah pukulannya iapun melancarkan tusukan, nyata kerja sama mereka berdua sangat rapi.

Menghadapi serangan dari muka dan belakang dengan angkuh Yang Thian-lui masih menjengek, “Hm, berani pamer kepandaian yang telah kalian pelajari, keluarkan saja seluruhnya!”

Belum lenyap suaranya pedang Ci in-hong datang menyambar di depan dahinya, hampir saja batok kepalanya tertebas.

Menyusul Kok Ham-hi juga menusuk pula dengan cara tak terduga. Segera Yang Thian-lui mengebas dengan lengan bajunya.

Tak terduga ujung pedang Kok Ham-hi mendadak memutar kesamping dan kembali menyerang dari arah yang tak terpikirkan olehnya.

Terdengarlah suara “bret” yang panjang, hampir setengah lengan baju Yang Thian-lui terobek menjadi potongan kecil-kecil.

Kiranya gerakan pedang Kok ham-hi diserta dengan puntiran sehingga kain baju itu seperti digiling saja. Keruan Yang Thian-lui terkejut dan gusar pula.

Mendadak ia membentak, kedua telapak tangan menghantam sekaligus, dengan jurus “Ya-ma-hun-cong" (kuda liar menyeruduk dua jurusan) ia paksa Ci In-hong berdua mundur.

“Hm, kiranya kalian berhasil meyakinkan pula ilmu pedang perguruan kita, tapi kalian mampu mengalahkan diriku?” jengek Yang Thian-lui.

Walaupun begitu katanya, tapi timbul juga rasa jerinya. Diam-diam ia berpikir tentang saudara seperguruannya, yaitu Hoa Thian-hong yang mengasingkan diri selama belasan tahun, kiranya diam-diam sedang meyakinkan ilmu pedang yang hebat ini dan diajarkan kepada muridnya untuk kemudian hendak menghadapinya.

Tampaknya ilmu pedang yang dimainkan Ci In-hong sekarang bahkan lebih hebat daripada kakek gurunya dahulu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X