temu-serasi

Berdering dan Kesepian

Sabtu, 8 Maret 2025 | 06:45 WIB
Ilustrasi Orang Menerima Telepon (Grok)

TINEMU.COM - Sejak ada telepon di kantor atau rumah, orang-orang mengerti “berdering”. Benda itu mengeluarkan suara mendapat sebutan “berdering”. Di telinga, terdengar: “kring, kring, kring”.

Di peristiwa bersama telepon, beragam suara menjadi pengalaman dan ingatan kolektif. Orang menggerakkan jari untuk memutar angka-angka menghasilkan suara berbeda saat jari bertugas menekan angka-angka di kotak.

Masa lalu itu masih terbuka jika kita membaca puisi gubahan Gus TF (1987-1988) berjudul “Tak Pernah Kubutuh Sebuah Telepon”. Babak penting saat orang menilik hubungan dengan telepon.

Ia berada dalam masa mulut dan telinga terhubung telepon untuk beragam kepentingan. Episode orang berperistiwa memegang gagang telepon.

Baca Juga: Stafsus Bidang Ekonomi Kreatif Dorong Sinergi Lembaga untuk Perlindungan Pekerja Kreatif

Kita membaca sambil mengenang silam: serupa telepon, aku berdering, “hallo, apa kabar?”// perjamuan, dan kusalam-selami setiap yang diam, apa/ yang kau tangkap di seberang peristiwa? tanpa kabel-/ kabel, arus (kabar) itu tetap tembus membeningkan/ kayu dan daging, seperti yang kau tangkap/ dari serapan hujan, telingaku mendenging: doa siapa/ yang bercucuran?

Kita merasakan keakraban dan keasingan manusia dengan telepon. Benda itu berdering, berpengaruh untuk raga dan batin. Benda dalam bicara dan mendengar, menguak dan mencipta peristiwa-peristiwa.

Kita lanjutkan masuk dalam puisi: telepon itu berdering, telingaku mendenging/ telepon itu berdering, dindingmu bergeming?// dengar, doa siapa/ (serupa telepon, tapi aku tak perlu berdering/ sebab kabar yang kuingin, senantiasa merayap dalam/ hening).

Baca Juga: Nezar Patria Ajak Teladani Nilai Kepahlawanan Melalui Film

Dulu, telepon berdering dalam pengulangan atau monoton. Suara telepon menjadi baku meski mendatangi orang dengan pengalaman batin berbeda.

Pada suatu masa, benda itu “dipaksa” menjadi nostalgia dibawa kaum tua. Benda mungkin masih ada meski dengan tugas-tugas tak segenting atau sepenting masa lalu.

Kita bisa mengetahui kesan telepon (lama) dalam novel berjudul The Lost Library (2025) gubahan Rebecca Stead dan Wendy Mass.

Kita simak pengalaman bocah di zaman telepon seluler (ponsel) tapi masih mewarisi masa lalu: “Evan memiliki telepon kuno di kamar tidurnya, telepon putar dengan cakra angka besar di bagian depan. Ia dan Rafe membeli sepasang telepon yang serasi di acara obral dengan uang mereka sendiri. Mereka menyebutnya ‘telepon kelelawar’. Rafe tidak diizinkan memiliki ponsel karena orangtuanya takut dia akan terkena kecanduan ponsel.”

Baca Juga: Anya Geraldine Mendadak Jadi Biduan Dangdut! Kok Bisa?

Anak-anak berhubungan dengan benda lama berbarengan orangtua sudah menikmati keajaiban ponsel.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB