Orang bertambah tua telah memiliki pengalaman bersama telepon di rumah atau kantor. Pada masa berbeda, di tangan mereka ada benda kecil memiliki khasiat melebihi telepon (lama) di atas meja. Tata cara bicara dan mendengar berubah. Kecamuk batin pun mengalami ralat atau melampaui repetisi masa lalu. Sebutan “telepon” belum menghilang. Benda memang berubah dan pengalaman-pengalaman bersama benda kecil mencipta “dunia besar”.
Pada 2005, Joko Pinurbo menggubah puisi berjudul “Pesan dari Ayah”. Ulah dan konsekuensi mengejutkan bersumber telepon genggam. Kita terjebak renungan saat membaca bait pertama: Datang menjelang petang, aku tercengang melihat/ Ayah sedang berduaan dengan telepon genggam/ di bawah pohon sawo di belakang rumah/ Ibu yang membelikan ayah telepon genggam/ sebab ibu tak tahan tahan melihat ayahnya kesepian.
Baca Juga: Pay Burman dan Irang Arkad Rilis 'Menyala Matahariku' untuk OST 'Qodrat 2'
Dunia dan manusia berubah gara-gara benda dinamakan telepon genggam atau telepon saku atau telepon seluler. Di telepon, ada adegan menulis kata dan membaca kata. Telepon tak cuma untuk mulut dan telinga.
Telepon itu bertugas “mengurangi” atau “menumpas” kesepian. Penggunaan telepon tak lagi “terjadwal” seperti saat telepon di atas meja berada di rumah atau kantor.
Tangan orang dengan gampang menjadikan telepon genggam, menunaikan kerja setiap saat sesuai keinginan. Orang bersama telepon tak harus berada di ruangan atau di pinggir jalan saat terdapat telepon umum.
Pilihan tempat boleh sembarangan. Hidup makin “berdering” tapi “kesepian” telanjur mengutuk. Begitu.**
Artikel Terkait
Terancam Punah, Peneliti BRIN Dorong Vitalitas Bahasa Pattae di Sulawesi Barat
Digitalisasi Naskah Lontar, Upaya Selamatkan Warisan Budaya yang Rentan Alami Kerusakan
Peneliti BRIN Kaji Cerita Lisan di Alor dan Toleransi Beragama di Era Majapahit