TINEMU.COM - Digitalisasi naskah lontar merupakan langkah inovatif untuk melestarikan warisan budaya yang rentan mengalami kerusakan. Akibat penyimpanan yang kurang tepat, banyak naskah lontar dalam kondisi kurang baik, seperti lembaran yang tidak lengkap, tulisan yang memudar, serta terdapat jamur.
Peneliti Pusat Riset Manuskrip Literatur dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) I Wayan Nitayadnya memaparkan hal tersebut dalam The 2nd International Conference on Language and Literature Preservation (ICLLP) di Gedung Widya Graha BRIN Gatot Subroto, Jakarta Selatan, pada Jumat, 21 Februari 2025.
Dalam kegiatan tersebut, Wayan memaparkan risetnya tentang digitalisasi lontar dan pariagem milik keluarga Jero Mangku I Wayan Lila Arsana di Gelgel, Bali dalam upaya penyelamatan naskah kuno.
Baca Juga: Alex Teh Rilis Single 'five' sebagai Simbol Kedewasaan
Wayan menjelaskan proses risetnya yang terbagi menjadi tiga tahapan utama, yaitu pra-digitalisasi, digitalisasi, dan pasca-digitalisasi yang ,masing-masing memiliki peran penting dalam memastikan keberlanjutan informasi yang terkandung dalam naskah kuno.
Tahapan pra-digitalisasi melibatkan pendekatan kepada pemilik naskah. Di Bali, misalnya, terdapat ritual khusus yang harus dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap naskah sebelum proses digitalisasi dimulai. Setelah mendapat izin, naskah diinventarisasi, dicatat metadata-nya, dan dipilih berdasarkan kelayakan fisik.
Pada tahap digitalisasi, naskah difoto, diedit, dan dikonversi ke dalam format digital. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan memasukkan metadata, mengemasnya dalam bentuk multimedia, serta mempublikasikannya secara daring agar mudah diakses.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Danantara Bisa Diaudit
Pada tahap pasca-digitalisasi, dilakukan alih media dari naskah ke dalam format digital terhadap berkas naskah tersebut. Setelah diolah lebih lanjut, perangkat lunak tersebut diserahkan kepada pemilik naskah serta kepada pemberi dana Program Pascasarjana Universitas Marwadewa.
Wayan mengisahkan, banyak naskah lontar dalam kondisi kurang baik, seperti lembaran yang tidak lengkap, tulisan yang memudar, serta terdapat jamur. Ini akibat penyimpanan yang kurang tepat.
“Kesulitan utama dalam digitalisasi adalah membaca dan merekonstruksi teks yang telah pudar, meskipun berbagai teknik pemotretan telah diterapkan,” ungkapnya.
Baca Juga: Terancam Punah, Peneliti BRIN Dorong Vitalitas Bahasa Pattae di Sulawesi Barat
Upaya digitalisasi naskah lontar diharapkan membawa berbagai manfaat signifikan. Antara lain pelestarian naskah, aksesibilitas yang lebih mudah, dukungan bagi penelitian dan pendidikan, dan kemudahan berbagi informasi.
“Meski menghadapi tantangan, digitalisasi tetap menjadi solusi terbaik untuk memastikan bahwa ilmu dan sejarah dalam naskah lontar dapat terus dipelajari oleh generasi mendatang,” imbuhnya.
Artikel Terkait
Tiongkok Kuno: Tempat Kelahiran Teh (Bagian 1)
Tak Bisa Dibayangkan Kelezatan Masakan Jawa Kuno
Kilas Balik Mataram Kuno dari Rakai Mataram Hingga Isyana Tunggawijaya
Konon Kata Cincin Berasal Dari Bahasa Jawa Kuno!
Humaniora Digital, Langkah Modernisasi Manuskrip Naskah Kuno ke Seni Pertunjukan