Tiongkok Kuno: Tempat Kelahiran Teh (Bagian 1)

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Minggu, 29 Mei 2022 | 21:46 WIB
foto dari bolong.id
foto dari bolong.id

TINEMU.COM - Sejarah teh berawal dari Tiongkok kuno, hampir 5.000 tahun yang lalu. Menurut legenda, pada tahun 2732 SM. Kaisar Shen Nung menemukan teh ketika daun dari pohon liar ditiup ke dalam panci berisi air mendidih.

Dia segera tertarik pada aroma menyenangkan dari minuman yang dihasilkan, dan meminumnya.

Legenda mengatakan Kaisar menggambarkan perasaan hangat saat dia meminum minuman yang menarik, seolah-olah cairan itu menyelidiki setiap bagian tubuhnya.

Shen Nung menamai minuman itu "ch'a", karakter Cina yang berarti memeriksa atau menyelidiki.

Pada tahun 200 SM seorang Kaisar Dinasti Han memutuskan bahwa ketika mengacu pada teh, karakter tulisan khusus harus digunakan yang menggambarkan cabang kayu, rumput, dan seorang pria di antara keduanya.

Karakter tertulis ini, juga diucapkan "ch'a" melambangkan cara teh membawa manusia ke dalam keseimbangan dengan alam untuk budaya Cina.

Baca Juga: Opini: Perlu atau Tidak Perlu Bersedih Akan Kekalahan Liverpool di Final Liga Champion 2021-2022?

Sejarah Teh Tiongkok

Popularitas teh di Cina terus berkembang pesat dari abad ke-4 sampai ke-8. Tidak lagi hanya digunakan untuk khasiat obatnya, teh menjadi bernilai untuk kesenangan dan penyegaran sehari-hari.

Perkebunan teh menyebar ke seluruh China, pedagang teh menjadi kaya, dan barang-barang teh yang mahal dan elegan menjadi panji kekayaan dan status pemiliknya.

Kekaisaran Cina dengan ketat mengontrol persiapan dan budidaya tanaman. Bahkan ditentukan bahwa hanya wanita muda, mungkin karena kemurnian mereka, yang memegang daun teh.

Pawang perempuan muda ini tidak boleh makan bawang putih, bawang merah, atau rempah-rempah yang kuat jika bau di ujung jari mereka dapat mencemari daun teh yang berharga.

Penemuan Teh Hitam

Hingga pertengahan abad ke-17, semua teh Cina adalah teh hijau.
Namun, ketika perdagangan luar negeri meningkat, para petani Cina menemukan bahwa mereka dapat mengawetkan daun teh dengan proses fermentasi khusus.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X