temu-serasi

Perpustakaan dan Kematian

Kamis, 20 Maret 2025 | 05:57 WIB
Ilustrasi Sebuah Buku Terbakar (Grok)

TINEMU.COM - Kota memiliki kehormatan dengan gedung disebut perpustakaan. Kota itu berbuku, dihuni para pembaca. Kota kecil diceritakan dalam novel berjudul The Lost Library (2025) gubahan Rebecca Stead dan Wendy Mass. Di situ, ada duka teringat warga: kebakaran gedung perpustakaan.

Buku-buku terbakar. Peristiwa mengabarkan kematian manusia-manusia dalam gedung. Bermula kebakaran bermunculan hantu-hantu. Kematian masih misteri tapi nostalgia perpustakaan lestari. Hantu-hantu itu masih membuat buku-buku mulia dan “mengekalkan” ingatan perpustakaan setelah tak tampak mata.

Anak-anak tak sempat melihat dan mengunjungi gedung perpustakaan. Mereka mendapat petunjuk saat masih bertemu buku-buku tersisa. Buku-buku dalam kondisi jelek, masih membawa kertas-kertas menandakan peminjaman di perpustakan.

Baca Juga: Rayakan Manisnya Lebaran dengan Hampers Cantik dari Melts

Bermula buku-buku, mereka mendapat pengisahan dari kaum tua atau kaum dewasa memiliki pengalaman di perpustakaan. Cerita-cerita tak utuh, disuguhkan dalam edisi-edisi “berbeda” mengandung rahasia.

Duka milik kota. Kebakaran itu kematian. Buku-buku musnah tapi tersisa bersama hantu-hantu pernah menghidupi perpustakaan. Kita menikmati novel dengan kejutan-kejutan mengenai kehidupan kota ditandai jantung (perpustakaan) tapi fana.

Si bocah bernama Evan merasa mendapat petunjuk “merekonstruksi” perpustakaan di kota berbekal buku dan selembar foto lama. Ia ingin berperan sebagai detektif: “Bagaimana jika kebakaran perpustakaan itu dipicu orang yang ia kenal?

Tidak. Tidak mungkin orang dari Martinville pelakunya. Sebab, Evan tidak bisa membayangkannya. Tetapi, HG Higgins atau seseorang yang menyebutnya dengan nama itu ada di perpustakaan pada hari kebakaran.

Baca Juga: FESMI dan PAPPRI Ajukan Amicus Curiae ke Mahkamah Agung dalam Kasus Agnez Mo vs Ari Bias

Higgins mengembalikan buku ini pada hari terjadinya kebakaran fatal. Kemudian, sejauh yang diketahui siapa pun, dia tidak pernah kembali.”

Orang-orang bersedih atas kehancuran dan kemusnahan buku-buku. Kematian pun terjadi dalam kebakaran. Sosok-sosok memuliakan perpustakaan turut “hilang”.

Perpustakaan itu kematian. Kita masih mungkin mengingat perpustakaan saat hantu-hantu terus merujuk masa lalu indah: warga bahagia mengunjungi perpustakaan dan kota bernafas dengan buku-buku.

Kita masih memikirkan perpustakaan dan kematian. Di novel bejudul The Thirteenth Tale (2008) gubahan Diane Setterfield, kita mendapat cerita tentang kematian istri dan nestapa suami.

Baca Juga: Cinta Dunia dan Kehilangan Akhirat: Pesan Mendalam Syekh Ibnu Athaillah

Kematian menghancurkan perasaan ditanggapi dengan mengurung diri di ruang perpustakaan dalam rumah besar. Keberadaan ruang untuk buku-buku dianggap “akhir” dan kegagalan menerima kematian.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB