Di hadapan buku-buku, lelaki itu kehilangan kemauan untuk memiliki dunia dan melanjutkan hidup. Perpustakaan menjadi ruang “menolak” kematian.
Istri mati saat persalinan. Cerita sedih: “Si jabang bayi, onggokan putih yang marah, kini tak memiliki ibu. Pada awalnya, semua dugaan dan kemungkinan tampaknya ia pun tidak memiliki ayah. Sebab, ayahnya langsung jatuh dalam kemerosotan. Dia mengurung diri dalam perpustakaan dan sama sekali tidak keluar.”
Di ruangan berisi buku-buku, ia tak menjadi pembaca. Ia sengsara dan menolak dunia. Sedih akibat kematian istri. Lelaki terlalu gampang abai kehidupan masih tergelar di rumah.
Baca Juga: Ikhlas: Rahasia Antara Hamba dan Tuhannya
Pada hari-hari berbeda, perpustakaan itu mengisahkan kegagalan pengasuhan. Di perpustakaan, absurditas bertumbuh dan buku-buku kesepian tanpa pembaca. Kesan kematian tetap merujuk perpustakaan meski tetap bertahan melewati tahun-tahun buruk.
Dua novel memuat masalah perpustakaan dan kematian. Kita sekadar pembaca bermaksud singgah dan menemukan kutipan-kutipan tak penting.
Kini, kita mendingan memikirkan “kematian-kematian” setelah perpustakaan sepi dan orang-orang enggan berpedikat pembaca buku (cetak). Konon, perpustakaan sepi mirip kuburan.
Orang-orang pun tampak “mati” gara-gara tak mau menjadi pembaca buku dan berpikir.
Baca Juga: Menemukan Hadirat Allah Melalui Kerendahan Hati dan Rasa Butuh
Pada masa silam, perpustakaan pernah menandai kehidupan kota dan gairah manusia-manusia melek aksara menggerakkan peradaban.
Ingatan itu berjatuhan saat abad XXI tak lagi mementingkan keberadaan perpustakaan atau gairah orang melahap buku. Begitu.**
Artikel Terkait
Membedah Puisi 'Aku Ingin' dengan Kacamata Filsafat
Toko(h) Buku
Seabad Pramoedya Ananta Toer, Dari Sastra Hingga Perlawanan