TINEMU.COM - Ramadhan datang, puisi pun datang. Orang-orang di Indonesia biasa menandai kedatangan Ramadhan dengan melihat serbuan iklan di televisi. Iklan-iklan cepat mengusung tema Ramadhan agar umat Islam segera menjadi konsumen.
Di pinggir jalan, spanduk atau baliho menggamblangkan bulan suci lekas datang. Di kalangan berani bergulat dengan kata-kata, Ramadhan itu kedatangan puisi-puisi.
Pada saat perut lapar dan kesabaran menjadi keutamaan, peristiwa membaca puisi memberi panggilan agar terselenggara usaha menjadi hamba. KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), sekian tahun lalu, menggubah puisi berjudul “Nasihat Ramadhan Buat A Mustofa Bisri.”
Baca Juga: Perpustakaan dan Kematian
Siasat menasihati diri berdampak ke pembaca. Mustofa itu pembaca. Mustofa itu kita. Larik-larik tak menjemukan terbaca saat mengalami hari-hari (menahan) lapar seharian.
Kita membaca: Mustofa,/ Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang/ mengingatkan kedlaifan dan melembutkan rasa./ Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata/ hanya penunggu/ atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa/ Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan/ kelamin, lebih tahan/ sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu/ hasrat dikekang untuk apa dan siapa.
Kita mengerti ada kritik atas orang-orang berpuasa. Konon, mereka mengaku berpuasa dengan bukti sahur, membaca niat, atau menanggungkan lapar dan haus.
Baca Juga: Rayakan Manisnya Lebaran dengan Hampers Cantik dari Melts
Lagak itu kadang manipulatif. Orang gampang gagal mengartikan puasa. Pemahaman (sekadar) biologis mengabaikan kaidah-kaidah untuk menjadikan diri sebagai hamba insaf atas batas dan kecukupan.
Lakon puasa kita masih mungkin mengobarkan “serakah” dan “rebutan”. Pengakuan sedang berpuasa justru memikirkan (kemauan dan nafsu) diri sendiri. Nasihat untuk Mustofa mengandung kontradiksi dan tumpukan kritik membikin pembaca turut malu menilik mutu puasa setiap Ramadhan.
Di puluhan puisi, Gus Mus rajin mengingatkan pembaca agar berani melakukan ralat atas ibadah-ibadah. Kritik mengenai ibadah menguak kegagalan kita dalam keberanian dan kepasrahan menjadi hamba.
Kita sering main-main, munafik, salah, dan sembrono dalam beribadah dan memberi makna-makna.
Baca Juga: FESMI dan PAPPRI Ajukan Amicus Curiae ke Mahkamah Agung dalam Kasus Agnez Mo vs Ari Bias
Pada 1993, Gus Mus menggubah puisi berjudul “Sujud”. Puisi terlalu berbeda dari isi khotbah menjemukan di mimbar-mimbar ata acara disiarkan di televisi. Ia tak menggunakan tanda seru tapi pembaca merasa mendapat pukulan telak agar mengoreksi kebiasaan beribadah.
Larik-larik akhir tanpa pamer tanda seru: Singkirkan saja sajadah mahalmu/ ratakan keningmu/ letakkan beningmu/ tanahkan wajahmu/ pasrahkan jiwamu/ biarlah rahmat agung/ Allah membelaimu/ dan terbanglah, kekasih.