Bulan (Bergelimang) Puisi

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Kamis, 20 Maret 2025 | 06:35 WIB
Ilustrasi Orang Membaca Puisi (Grok)
Ilustrasi Orang Membaca Puisi (Grok)

Ramadhan pun bulan zikir dan doa. Kita menepi dari nasihat-nasihat menuntut ralat ibadah. Pilihan beralih ke puisi gubahan Zawawi Imron (1983) berjudul “Zikir”. Kita diajak dalam pemaknaan tauhid dan penghambaan. Larik-larik tak kalah “garang” dengan suguhan Gus Mus dan Emha Ainun Nadjib.

Kita membaca dalam rasa berbeda: kugali hatiku dengan linggis alifmu/ hingga lahir mata air, jadi sumur, jadi sungai,/ jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang/ mengerang menyebut alifmu/ alif, alif, alif. Kita masih berada dalam Ramadhan.

Kesibukan orang mengikuti pengajian-pengajian agar berpengetahuan dan mendapat hikmah bisa disempurnakan dengan menjadikan Ramadhan itu bulan bergelimang puisi. Begitu.**

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X