Ramadhan pun bulan zikir dan doa. Kita menepi dari nasihat-nasihat menuntut ralat ibadah. Pilihan beralih ke puisi gubahan Zawawi Imron (1983) berjudul “Zikir”. Kita diajak dalam pemaknaan tauhid dan penghambaan. Larik-larik tak kalah “garang” dengan suguhan Gus Mus dan Emha Ainun Nadjib.
Kita membaca dalam rasa berbeda: kugali hatiku dengan linggis alifmu/ hingga lahir mata air, jadi sumur, jadi sungai,/ jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang/ mengerang menyebut alifmu/ alif, alif, alif. Kita masih berada dalam Ramadhan.
Kesibukan orang mengikuti pengajian-pengajian agar berpengetahuan dan mendapat hikmah bisa disempurnakan dengan menjadikan Ramadhan itu bulan bergelimang puisi. Begitu.**
Artikel Terkait
Membedah Puisi 'Aku Ingin' dengan Kacamata Filsafat
Toko(h) Buku
Seabad Pramoedya Ananta Toer, Dari Sastra Hingga Perlawanan
Perpustakaan dan Kematian