Kita membaca saat sedang menikmati bulan Ramadhan sebagai “bulan ibadah”. Orang-orang menambahi jumlah sujud meski belum dalam ketulusan dan kepasrahan. Gus Mus memberi nasihat bikin senewen.
Baca Juga: Cinta Dunia dan Kehilangan Akhirat: Pesan Mendalam Syekh Ibnu Athaillah
Selama bulan Ramadhan, ulama dan penceramah selalu mengajak agar umat meningkatkan ibadah dalam raihan takwa. Kita gampang terjebak berada dalam “pementasan” atau “persaingan” ibadah dalam jumlah.
Di desa dan kota, ibadah menjadi tema akbar. Kita mengandaikan Ramadhan membuat Indonesia beribadah pagi, siang, sore, dan malam selama sebulan.
Kita mendingan mengikuti renungan Emha Ainun Nadjib (1988) dalam “Negeri Kaum Beribadah”. Musafir mencari masjid malah mendapat jawaban-jawaban menohok.
Kita membaca: “Orang sinting ini pun tertawa riuh, ‘Alangkah pendek pengembaraanmu! Masjid ialah tempat bersujud. Dan yang namanya tempat itu tidak harus ruang, bangunan, bentuk, dinding, tiang, atau hiasan-hiasan. Ia bisa saja sebuah perbuatan, sekecil apapun. Setiap perbuatan untuk Allah adalah masjid bagi nilai hidupmu…’”
Baca Juga: Ikhlas: Rahasia Antara Hamba dan Tuhannya
Kita meragu saat membaca kalimat-kalimat itu sambil melihat masjid-masjid di seantero Indonesia sedang sibuk dan ramai selama Ramadhan. Masjid menjadi pusat ibadah dan pelbagai peristiwa untuk memuliakan Ramadhan.
Emha Ainun Nadjib justru mengajak pembaca tak tergesa mengartikan masjid. Ia mengajak kita sadar dengan risiko pemaknaan batiniah ketimbang kasat mata atau material. Di situ, kita bertambah bekal ralat dalam bersujud setelah menikmati larik-larik Gus Mus.
Emha Ainun Nadjib mengalirkan nasihat membuat pembaca susah bernafas. Kalimat-kalimat lanjutan: “Kalau engkau menyaksikan beribu-ribu orang mensujudkan badannya di bangunan besar berkubah yang disebut masjid, bisa tahukah engkau apakah jiwa mereka sungguh-sungguh bersujud?”
Baca Juga: Ikhlas: Rahasia Antara Hamba dan Tuhannya
Kita belum mampu atau tak sanggup menjawab. Bersujud itu rumit saat kita terbebani beragam anjuran ketimbang kesungguhan membuat kritik-diri atau membenahi pengertian-pengertian.
Ramadhan, bulan keramaian ibadah. Dua pengarang rajin berdakwah menantang kita untuk mengerti ibadah-ibadah dalam ejawantah iman. Pemahaman puasa tak seenteng ucapan bisa disampaikan cenderung basi: “Selamat menunaikan ibadah puasa.”
Kalimat itu hampir slogan tak lagi menampung hasrat ketulusan menjadi hambar. Kita terbiasa dalam buaian kalimat-kalimat sloganistik, belum sampai ke amalan memang pantas bermakna selama Ramadhan.
Baca Juga: Menemukan Hadirat Allah Melalui Kerendahan Hati dan Rasa Butuh