TINEMU.COM - Pembaca di Indonesia memiliki selera kadang bikin sebal. Gairah membaca novel berdasarkan kaidah-kaidah “istimewa”. Pembaca itu lahir dan tumbuh di Indonesia tapi tak bisa dipastikan suka membaca novel-novel ditulis para pengarang Indonesia. Ia berhak menjadi pembaca novel-novel dari pelbagai negara. Ia membaca edisi terjemahan bahasa Indonesia.
Konon, pembaca itu mudah dan biasa meledek novel-novel Indonesia tak bermutu. Jumlah bacaan terus bertambah tapi pembaca berselera “asing” itu menghindari novel-novel buatan para pengarang Indonesia meski terkenal dan laris. Kunjungan ke toko buku atau pembelian di lokapasar tetap menghasilkan pembelian novel-novel asing dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Kita pun mengetahui pembaca mengaku “terhormat” gara-gara menentukan bacaan menggunakan seleksi ketat. Ia bukan sekadar pembaca novel-novel asing. Keputusan menjadi pembaca ditentukan pengarang dan penghargaan. Pada saat menghadapi buku, ia memastikan di sampul ada logo atau keterangan mengenai pengarang. Ia cuma menginginkan novel-novel dari pengarang asing sudah meraih Nobel Sastra.
Pembaca itu tak terlalu pusing membedakan novel-novel sebelum pengarang meraih Nobel Sastra atau novel-novel setelah kemonceran gara-gara Nobel Sastra. Pilihan membaca novel-novel berkaitan Nobel Sastra dianggap menjadikan pembaca bakal terhormat. Ia berhasrat menjadi pembaca novel-novel dari pengarang tenar saja. Pembaca mungkin selalu berpatokan: segala novel dari pengarang cap Nobel Sastra pasti bermutu.
Kita mudah menemukan pembaca “cerewet”. Ia melakukan seleksi ketat daftar novel dinikmati sebelum mati. Pujian untuk novel-novel “dunia” terjadi dipengaruhi Nobel Sastra dan pelbagai peghargaan internasioanl. Ia mengaku tak sekadar menjadi pembaca boros pujian. Sekian novel menjadi sasaran ejekan dan kritik. Ia berhak menuduh jelek dan remuk meski novel-novel ditulis para pengarang kondang di dunia: abad XX dan XXI. Ungkapan mudah disampaikan: novel dari pengarang telanjur meraih Nobel Sastra tak dijamin bermutu. Sesalan bisa disusulkan dengan anggapan pengarang itu belum pantas meraih Nobel Sastra. Pengarang itu menanggung “salah pilih” dari kepentingan-kepentingan pemberi penghargaan Nobel Sastra.
Pada 13 April 2025, berita tiba di Indonesia tanpa menunggu sekian jam dan hari. Berita duka: Mario Vargas Llosa mati. Berita kematian tak lekas mendapat tanggapan dari para pembaca di Indonesia. Pengarang terkenal dan meraih Nobel Sastra seolah “belum” dikenali atau diakrabi dalam pasar buku di Indonesia. Pengarang asal Amerika Latin tapi berbeda nasib dan pamor dari sederet nama telah dipuja di Indonesia. Ia sulit mengalahkan pesona Gabriel Garcia Marquez.
Sekian tahun, para pembaca di Indonesia sudah menikmati persembahan Mario Vargas Llosa dalam edisi terjemahan oleh beragam penerbit: Siapa Pembunuh Palomino Molero? (Komodo Books), Sang Pengoceh (Oak), dan Lima Sudut (Gramedia Pustaka Utama). Kita beranggapan sastra berasal dari Amerika Latin makin diminati di Indonesia meski jumlah pembaca buku-buku Llosa sulit mengalahkan jumlah pembaca novel-novel gubahan Gabriel Garcia Marquez dan sederet pengarang tenar telah duluan hadir di Indonesia.
Jumlah buku terjual biasa dipengaruhi pengumuman nama-nama peraih penghargaan atau kematian. Pada 2025, berita kematian mungkin sulit meningkatkan jumlah penjualan buku-buku Mario Vargas Llosa. Kita pun meragu bila kematian bakal memunculkan para “pemuja” Mario Vargas Llosa memicu penerjemahan beragam buku dalam bahasa Indonesia. Kita sekadar memastikan Mario Vargas Llosa itu pengarang besar dan berpengaruh. Nama itu perlahan mendapat perhatian di Indonesia sebelum berita kematian tiba tanpa janji kemunculan obituari panjang dan seri diskusi mengenang pengarang. Begitu.**