TINEMU.COM - Di masa kecil, banyak dari kita belajar mengenali tubuh melalui lagu sederhana yang akrab: “Kepala, bahu, lutut, dan jari kaki.” Nyanyian polos yang awalnya berfungsi sebagai permainan belajar ternyata menanamkan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran akan tubuh kita sendiri. Bahwa setiap bagian punya nama, setiap gerak punya makna.
Dari sana kita menari, menunduk, menepuk lutut, dan tertawa. Namun, seperti yang diamati kurator Stella Wenny, kepolosan itu lambat laun terkikis seiring pertumbuhan. Tubuh, yang tadinya bebas dan otonom, perlahan menjadi arena tarik-menarik antara kehendak pribadi dan norma sosial.
Dalam pameran “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki” di Art Agenda, Wisma Geha – Lantai 4, gagasan ini dijadikan pintu masuk untuk menelusuri tubuh bukan hanya sebagai wujud biologis, melainkan juga medan sosial, politik, dan psikologis.
Pameran yang berlangsung dari 6 September hingga 25 September 2025 (buka setiap Selasa–Sabtu pukul 12.00–17.00 WIB, tutup Minggu dan Senin). Pameran ini mengundang sembilan perupa lintas medium untuk mengajukan pertanyaan yang sama: sejauh apa kita benar-benar memiliki tubuh kita sendiri?
Tubuh, Kontrol, dan Pembebasan
“Baik dalam cara kita berpakaian, berperilaku, berbicara, memilih karier, atau bahkan cara kita mendefinisikan identitas kita, terdapat tarik-menarik antara keinginan kita dan apa yang dianggap masyarakat sebagai norma yang ‘benar’,” tulis Stella dalam catatan kuratorialnya.
Tubuh, dengan segala potensi geraknya, justru sering kali dikekang oleh ekspektasi sosial. Warna kulit, bahasa tubuh, bahkan cara duduk: semuanya rentan diberi label, diatur, dan dinilai. Di sinilah karya-karya dalam pameran ini tampil, tidak hanya sebagai representasi tubuh, tapi juga perlawanan, refleksi, dan permainan terhadap sistem kontrol tersebut.
Stella, yang dikenal dengan ketertarikannya mempromosikan seni modern pascaperang Indonesia serta keragaman seni Asia Tenggara, melihat pameran ini sebagai ruang pembebasan kecil. Seni, baginya, mampu menyatukan kita melalui estetika, subjek, maupun medium - serta memberi jalan keluar dari kerangkeng norma yang kaku.
Jejak Tubuh dalam Karya
Masing-masing perupa membawa tafsir pribadi, dengan bahasa visual yang beragam. Dari kanvas berminyak hingga potongan mobil RC yang direkonstruksi, dari sulaman kain bekas hingga silkscreen yang dipadu pastel minyak: semua medium menegaskan bahwa tubuh bukan sekadar daging, tetapi juga ide yang bisa dibongkar, dipertanyakan, dan dirayakan.
Berikut di antara daftar karya para perupa yang akan tampil:
- Dimas Hussein, Life Is Strong, But We Both Are Stronger (2025), oil on canvas, 100 x 120 cm. Sebuah lukisan yang menegaskan daya tahan tubuh, tidak hanya fisik, tetapi juga psikis: yang justru makin kuat ketika bersinggungan dengan yang lain.
- Eric Pradana, Ego (2025), acrylic on canvas, 50 x 50 cm.
Potret kecil tapi intens, tentang bagaimana ego sering kali mengambil alih tubuh sebagai kendaraan ambisi dan dominasi.
- Eunice Nuh Tantero, Tarik Menarik 2 (2025), mixed media on paper, 50 x 40 cm.
Garis-garis dan tekstur yang saling bertubrukan, menggambarkan tarik-ulur antara keinginan pribadi dan kendali eksternal.
- Galih Johar, Who Controls Who, Part I (2024), deconstructed RC cars, 20 x 26 x 28 cm.
- Gigih Prayogo, Cornered by the Weight (2025), acrylic on canvas, 60 x 50 cm.
Tubuh yang terpojok oleh beban, entah norma, ekspektasi, atau tekanan tak kasatmata: lukisan ini seolah menghadirkan rasa sesak sekaligus empati.
- Rega Ayundya Putri, The Shape of Letting Go (2025).
Sebuah karya tentang pelepasan, bentuk tubuh yang larut dalam gerak melepaskan diri dari cengkeraman tak terlihat. - Theresia A. Sitompul, Pinggul 01 (2025), emulsion afdruk on T77, silkscreen mounted on aluminium, metabond red adhesive and oil pastel, 48 x 65 cm.
- Wednesday Lim, The Cake Seller (2024), oil on canvas, 200 x 100 cm.
- Yawara Oky Rahmawati, Berderai Pelan Sepanjang Malam (2024), scrap fabric, beads, threads with embroidery technique on canvas, diameter 100 cm.
Sulaman kain bekas yang membentuk lingkaran - seperti tubuh yang rapuh namun tetap utuh : mungkin berbicara tentang kerentanan sekaligus keindahan.
Setiap karya, meski berbeda bahasa, membentuk paduan yang kaya. Seperti tubuh itu sendiri, yang terdiri dari organ, jaringan, dan saraf yang berbeda, namun semuanya bekerja bersama untuk memungkinkan kita hidup, bergerak, dan merasakan.