Kepala, Pundak, Lutut, Kaki: Membaca Tubuh di Art Agenda Wisma Geha Lt 4

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Sabtu, 6 September 2025 | 20:38 WIB
Suasana gelaran Kepala, Pundak, Lutut, Kaki di Art Agenda. Foto Zay
Suasana gelaran Kepala, Pundak, Lutut, Kaki di Art Agenda. Foto Zay

TINEMU.COM - Di masa kecil, banyak dari kita belajar mengenali tubuh melalui lagu sederhana yang akrab: “Kepala, bahu, lutut, dan jari kaki.” Nyanyian polos yang awalnya berfungsi sebagai permainan belajar ternyata menanamkan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran akan tubuh kita sendiri. Bahwa setiap bagian punya nama, setiap gerak punya makna.

Dari sana kita menari, menunduk, menepuk lutut, dan tertawa. Namun, seperti yang diamati kurator Stella Wenny, kepolosan itu lambat laun terkikis seiring pertumbuhan. Tubuh, yang tadinya bebas dan otonom, perlahan menjadi arena tarik-menarik antara kehendak pribadi dan norma sosial.

Dalam pameran “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki” di Art Agenda, Wisma Geha – Lantai 4, gagasan ini dijadikan pintu masuk untuk menelusuri tubuh bukan hanya sebagai wujud biologis, melainkan juga medan sosial, politik, dan psikologis.

Pameran yang berlangsung dari 6 September hingga 25 September 2025 (buka setiap Selasa–Sabtu pukul 12.00–17.00 WIB, tutup Minggu dan Senin). Pameran ini mengundang sembilan perupa lintas medium untuk mengajukan pertanyaan yang sama: sejauh apa kita benar-benar memiliki tubuh kita sendiri?

Pengunjung menikmati gelaran Kepala, Pundak, Lutut, Kaki
Pengunjung menikmati gelaran Kepala, Pundak, Lutut, Kaki

Tubuh, Kontrol, dan Pembebasan

“Baik dalam cara kita berpakaian, berperilaku, berbicara, memilih karier, atau bahkan cara kita mendefinisikan identitas kita, terdapat tarik-menarik antara keinginan kita dan apa yang dianggap masyarakat sebagai norma yang ‘benar’,” tulis Stella dalam catatan kuratorialnya.

Tubuh, dengan segala potensi geraknya, justru sering kali dikekang oleh ekspektasi sosial. Warna kulit, bahasa tubuh, bahkan cara duduk: semuanya rentan diberi label, diatur, dan dinilai. Di sinilah karya-karya dalam pameran ini tampil, tidak hanya sebagai representasi tubuh, tapi juga perlawanan, refleksi, dan permainan terhadap sistem kontrol tersebut.

Stella, yang dikenal dengan ketertarikannya mempromosikan seni modern pascaperang Indonesia serta keragaman seni Asia Tenggara, melihat pameran ini sebagai ruang pembebasan kecil. Seni, baginya, mampu menyatukan kita melalui estetika, subjek, maupun medium - serta memberi jalan keluar dari kerangkeng norma yang kaku.

Jejak Tubuh dalam Karya

Masing-masing perupa membawa tafsir pribadi, dengan bahasa visual yang beragam. Dari kanvas berminyak hingga potongan mobil RC yang direkonstruksi, dari sulaman kain bekas hingga silkscreen yang dipadu pastel minyak: semua medium menegaskan bahwa tubuh bukan sekadar daging, tetapi juga ide yang bisa dibongkar, dipertanyakan, dan dirayakan.

Menikmati pameran Kepala, Pundak, Lutut, Kaki di Art Agenda
Menikmati pameran Kepala, Pundak, Lutut, Kaki di Art Agenda

Berikut di antara daftar karya para perupa yang akan tampil:

  • Dimas Hussein, Life Is Strong, But We Both Are Stronger (2025), oil on canvas, 100 x 120 cm. Sebuah lukisan yang menegaskan daya tahan tubuh, tidak hanya fisik, tetapi juga psikis: yang justru makin kuat ketika bersinggungan dengan yang lain.
  • Eric Pradana, Ego (2025), acrylic on canvas, 50 x 50 cm.
    Potret kecil tapi intens, tentang bagaimana ego sering kali mengambil alih tubuh sebagai kendaraan ambisi dan dominasi.
  • Eunice Nuh Tantero, Tarik Menarik 2 (2025), mixed media on paper, 50 x 40 cm.
    Garis-garis dan tekstur yang saling bertubrukan, menggambarkan tarik-ulur antara keinginan pribadi dan kendali eksternal.
  • Galih Johar, Who Controls Who, Part I (2024), deconstructed RC cars, 20 x 26 x 28 cm.
  • Gigih Prayogo, Cornered by the Weight (2025), acrylic on canvas, 60 x 50 cm.
    Tubuh yang terpojok oleh beban, entah norma, ekspektasi, atau tekanan tak kasatmata: lukisan ini seolah menghadirkan rasa sesak sekaligus empati.
  • Rega Ayundya Putri, The Shape of Letting Go (2025).
    Sebuah karya tentang pelepasan, bentuk tubuh yang larut dalam gerak melepaskan diri dari cengkeraman tak terlihat.
  • Theresia A. Sitompul, Pinggul 01 (2025), emulsion afdruk on T77, silkscreen mounted on aluminium, metabond red adhesive and oil pastel, 48 x 65 cm.
  • Wednesday Lim, The Cake Seller (2024), oil on canvas, 200 x 100 cm.
  • Yawara Oky Rahmawati, Berderai Pelan Sepanjang Malam (2024), scrap fabric, beads, threads with embroidery technique on canvas, diameter 100 cm.
    Sulaman kain bekas yang membentuk lingkaran - seperti tubuh yang rapuh namun tetap utuh : mungkin berbicara tentang kerentanan sekaligus keindahan.

Setiap karya, meski berbeda bahasa, membentuk paduan yang kaya. Seperti tubuh itu sendiri, yang terdiri dari organ, jaringan, dan saraf yang berbeda, namun semuanya bekerja bersama untuk memungkinkan kita hidup, bergerak, dan merasakan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X