temu-serasi

Nurohmad Perintis Cap Batik Daur Ulang Kertas dan Pencipta Batik Weton

Selasa, 10 Januari 2023 | 23:10 WIB
Foto: Rifzikka Atmadiningrat & dokpri

TINEMU.COM - Membuat batik cap dengan cap dari bahan tembaga, itu sudah biasa. Tetapi menjadi sesuatu yang unik dalam proses membuat batik cap seperti yang dilakukan Nurohmad.

Nurohmad menggunakan cap batik dari kertas daur ulang hasil ciptaannya, bukan dari tembaga. Ide ini berawal dari bagaimana meminimalisir budget ketika Rohmad, begitu pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 9 Mei 1975 ini biasa disapa, mendapat order berupa 40 lembar kain batik cap.

"Kalau memakai cap batik dari tembaga tentu ongkos produksinya besar. Saya asal coba saja membuat cap batik memakai kertas, dan ternyata kok bisa. Dari situlah saya mulai eksplorasi membuat cap batik dengan kertas.

Ternyata dengan cara ini dapat menekan biaya produksi daripada kalau memakai cap batik dari tembaga," papar Nurohmad.

Harga kain batik, lanjut Nurohmad, bila diproduksi memakai cap tembaga, antara 500 ribu rupiah sampai 2 juta rupiah. Sedangkan dengan memakai cap daur ulang kertas, per kain antara 100 ribu rupiah sampai 250 ribu rupiah tergantung tingkat kerumitan.

Baca Juga: Megawati: Lucu Ya Sekarang Orang Berpolitik

Berkat ketekunan mengeksplorasi cap batik daur ulang kertas yang diciptakannya, suami dari Irawati ini mendapat Penghargaan Teknologi Tepat Guna "Canting Cap Berbahan Limbah Kertas Kemasan" tingkat Kabupaten Bantul pada tahun 2016.

Lewat Teknologi Tepat Guna seperti yang dilakukan Rohmad, ternyata mampu memecahkan masalah, tekniknya pun sederhana, dan dapat dilakukan oleh siapa pun. Tidak seperti cap berbahan tembaga yang memerlukan teknik patri dan keterampilan khusus.

Foto: Rifzikka Atmadiningrat & dokpri

Cap kertas daur ulang hanya memakai lem sebagai bahan perekat. Hal ini sudah diuji coba untuk dikerjakan oleh anak-anak sampai nenek-nenek, dan mereka mampu membuatnya. Tentu disesuaikan dengan kemampuan mereka, kalau hanya untuk mengenal teknik dasar pembuatan cap kertas sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapa pun.

Disebut teknologi tepat guna sebab semua bahan tersedia di sekitar kita, dengan teknik yang sederhana dan dapat memecahkan persoalan produksi. Semua ini melalui proses perjalanan yang panjang, dan terbukti seperti kata teman-teman Rohmad di Wijirejo, bahwa mereka sudah memakai cap kertas untuk memproduksi 800 lembar kain.

Kalau 1 lembar kain ada 40 pengecapan berarti paling tidak 1 cap batik kertas daur ulang bisa dipakai 32.000 kali pengecapan paling tidak. "Saya sendiri tidak pernah menghitung berapa kali saya memakai cap yang sama berkali-kali.”

Baca Juga: Kalender di Tempat Sampah

”Saya pikir selama cara memakainya dan menyimpannya dengan benar, cap batik kertas daur ulang akan awet dipakai," jelas Nurohmad.

Kertas yang dipakai untuk membuat cap semakin sering dipakai akan semakin kuat karena kertas semakin banyak dipakai semakin menyerap lilin malam dan semakin kaku.

Ketika rangkaian ornamen secara konstruksi kuat maka akan semakin menyatu dengan baik. Saat pori-pori kertas menyerap lilin malam justru menguatkannya dan semakin kaku.

"Asal tidak terkena benturan keras atau jatuh misalnya dan penggunaannya sesuai serta penyimpanan bagus tentu akan awet," imbuhnya.

Awalnya, ayah dua anak - Himmatul Ulya dan Aida Nur Kholila ini, membuat cap batik berbahan kertas duplex  yang biasanya untuk kotak snack.
"Karena saya perokok, saya coba buat dari bungkus rokok. Lalu ketika iseng di pos ronda, yang lain main kartu remi saya berpikir kartu remi bagus juga dibuat  cap batik.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB