Nurohmad Perintis Cap Batik Daur Ulang Kertas dan Pencipta Batik Weton

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Selasa, 10 Januari 2023 | 23:10 WIB
Foto: Rifzikka Atmadiningrat & dokpri
Foto: Rifzikka Atmadiningrat & dokpri

Awalnya mau bikin karya 'fine art', mau menunjukkan bahwa kartu remi bisa juga sebagai bahan membuat cap batik, bahan kartu remi termasuk bagus," cerita Rohmad.

Tetapi menurut lulusan Sekolah Menengah Industri Kerajinan Jepara jurusan Batik (1994) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Jurusan Kriya Seni (2002) ini, yang paling bagus  adalah cup kertas, karena cup kertas memang dibuat agar tahan panas.

Baca Juga: Kalender dan Pohon

Ada juga kertas yang biasa untuk membuat poster, kertas rokok, dan lain-lain. Maka ada saja teman-teman Rohmad dari advertising yang kadang membawakan kertas poster atau teman yang membawakan sekantong bekas bungkus rokok untuknya.

Cap batik kertas daur ulang sudah dibuat Nurohmad sejak tahun 2014 dan tak terhitung berapa jumlah cap batik yang sudah dibuatnya.  Banyak orang memesan kepadanya untuk dibuatkan cap batik dengan membawa motif ornamen sendiri. Tak heran jika karya cap batik kertas daur ulang karyanya sudah tersebar ke seluruh Indonesia.

Rohmad merasa beruntung tinggal di Yogyakarta, tempat yang memberi ruang kreativitas dan dialog yang bagus dan kondusif.

Dia juga menciptakan motif ornamen di banyak daerah karena sering keluar memberikan pelatihan, di antaranya, Karimun Jawa, Papua, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera, sekaligus menggali motif ornamen setempat.

Nurohmad dengan ribuan motif ornamen cap batik ciptaannya  yang sudah tersebar di berbagai daerah, tak merasa risau jika karyanya ditiru orang lain. Sehingga ia tak merasa perlu mendaftarkan karya ciptanya ke HAKI sebagai hak cipta intelektualitas yang dimilikinya.

"Saya tidak kuatir kalau ditiru. Kalau saya kuatir tidak mungkin saya ajarkan teknik ini ke seluruh Indonesia. Tidak masalah bagi saya"

Foto: Rifzikka Atmadiningrat & dokpri
Foto: Rifzikka Atmadiningrat & dokpri


OMAH KREATIF DONGAJI

Dalam melakukan semua aktivitasnya, sejak tahun 2014, Rohmad mendirikan Omah Kreatif Dongaji di Jl. Sawit, Sawit, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188.

Dongaji yang artinya Belajar. Mari belajar, mari mengaji.

"Kebetulan saya punya guru ngaji yang selalu mengajak, "ayo dongaji". Semuanya belajar. Di sini tempat belajar bersama, bukan saya menjadi guru dan menggurui. Tetapi kita belajar bersama," jelas Rohmad.
Selain menjadi tempat belajar bersama, Omah Kreatif Dongaji juga menjual kain dan bahan pewarna batik, dan jasa pelatihan.

Omah Kreatif Dongaji menjadi ruang untuk menghidupkan denyut ekonomi dan sebagai laboratorium kriya yang mempunyai produk berupa batik, canting cap kertas berbahan limbah kertas kemasan dan produk jasa pelatihan pembuatan cap kertas serta batiknya.

Dan yang terpenting adalah pemberdayaan masyarakat.

Di samping memberikan pelatihan kemana-mana Nurohmad setiap hari Minggu mengajar pada program AFC (Art for Children) di Taman Budaya Yogyakarta. Di sana ia memberikan pelatihan dasar membatik bagi anak-anak.

Baca Juga: Film The Menu dan Gastro-kolonialisme

Dengan batik cap anak akan lebih mudah dan cepat belajar dan mengenal teknik batik. Apalagi cap batik kertas lebih ramah lingkungan, mudah dan ringan, terutama bagi anak-anak dan ibu-ibu.

Nurohmad punya keinginan untuk membuat museum batik cap - tembaga, kayu, kertas dan lain sebagainya "Entah kapan, karena itu butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit," jelasnya saat ditanyakan tentang harapannya ke depan dengan batik cap kertasnya Dongaji.

BATIK WETON

Salah satu motif kain batik yang diciptakan Nurohmad adalah 'Batik Weton'. Batik Weton (hitungan hari dan pasaran Jawa) berawal dari obrolan bagaimana menciptakan batik yang bisa menjadi metodologi nantinya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X