"Seperti sengkalan Jawa misalnya dari bahasa (sastra) diubah dalam bentuk gambar, dari gambar bisa diterjemahkan sebagai angka (tahun) seperti sengkalan 'Dwi Naga Rasa Tunggal' yang menjadi sengkalan tahun berdirinya kraton Ngayogyakarta"
Bagi Nurohmad metodologi sengkalan sangat menarik, inilah yang kemudian melahirkan ide batik weton. "Saya ingin batik weton menjadi metodologi konsep membuat motif ornamen batik yang bisa dibakukan sekaligus bisa diperbaharui terus-menerus," ujarnya.
Baca Juga: Psikolog UGM Sebut Lato-lato Bisa Kurangi Ketergantungan Anak Bermain Gawai
Di dalam Weton ada 35 hari, tapi Rohmad masih berproses untuk membuat semuanya menjadi pola motif ornamen batik. "Sebagai contoh misalnya Kamis Pon. Pon itu simbolnya bledheg (petir) wataknya angin yang cenderung seperti bledheg. Kamis wataknya udara, keduanya bertemu dalam warna kuning ke merah.
Hewan Kamis pon adalah kuda, hari pasaran Jawa diwakili oleh unsur alam seperti pohon, bunga, hewan, air, api, tanah, udara," tutur putra dari pasangan Bapak Jasman (alm.) dan Ibu Musni ini.
Nurohmad berharap suatu saat nanti dapat menggelar pameran batik cap kertas daur ulang dengan metodologi weton. "Saya tidak tahu kapan, tapi saya optimis. Perjalanan saya masih panjang untuk menemukan metodologi weton dengan baik yang bisa dibaca, ditafsirkan, dimaknai setiap orang saat melihat Batik Weton," harap Rohmad.
Penulis: Rini Clara, Foto: Rifzikka Atmadiningrat & dokpri ***