Resensi Buku Bandung Mawardi: Sindhunata, Anak Bajang, Pagi dan Malam

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Kamis, 12 Mei 2022 | 16:37 WIB
Sampul Buku Anak Bajang Mengayun Bulan terbitan Gramedia (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Sampul Buku Anak Bajang Mengayun Bulan terbitan Gramedia (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Empat puluh tahun lalu, orang-orang menikmati Anak Bajang Menggiring Angin. Buku terus cetak ulang. Orang-orang mengenang dan berbagi ingatan atas cerita.

Tahun-tahun bergerak, orang-orang berharapan membaca lagi buku garapan Sindhunata. Penantian itu lama. Kini, mereka menikmati Anak Bajang Mengayun Bulan.

Suguhan cerita mungkin membuat pembaca meneteskan air mata. Pembaca sanggup khatam buku tebal itu berhak merenung semalaman sambil berharapan menatap bulan meski sekejap.

Pada usia 70 tahun, Sindhunata sumringah mempersembahkan cerita. Ia belum lelah dengan kata-kata. Sindhunata masih tebar makna. Anak Bajang Mengayun Bulan memanggil kita menjadi pembaca berani tabah dan menolak marah.

Buku tebal mustahil dikhatamkan dalam waktu sejenak. Sekian jam atau hari menikmati cerita sambil mengerti kaitan buku dengan suasana pagi, siang, senja, dan malam. Waktu-waktu dalam cerita bisa sesuai dengan pengalaman-waktu si pembaca.

Baca Juga: Genjot Transaksi Digital, PT INTI Luncurkan Marketplace INTI Official Store

Pembukaan cerita memilih pagi. Pembaca boleh sengaja mengawali menikmati cerita saat pagi, setelah sarapan. Sindhunata mengisahkan: “Pagi sedang sangat indah di hutan Jatirasa. Embun-embun belum pecah…” Pagi itu awal. Pagi mengartikan hidup.

Pagi indah milik Sukrosono: “… seorang raksasa bajang, berbadan kecil, berjalan-jalan amat riang. Raksasa bajang itu amat buruk rupanya. Kulitnya hitam pekat, giginya beringgit-ringgit seperti duri-duri pandan. Taringnya tajam keluar. Hidungnya mengguntung, dahinya menggantung. Matanya membelalak, lehernya cekak, sampai kelihatan ia tak berpundak. Rambutnya merah, tumbuhnya jarang-jarang. Kakinya pendek, jalannya berangkang-rangkang. Punggungnya membungkuk sabut, pantatnya menggerumuk seperti mangkuk. Perutnya buncit, menggelembung seperti kelapa bergelantung,” Sosok tak indah menerima berkah pagi indah.

Malam pun indah. Malam bila berbulan. Indah tak kekal. Malam, waktu asmara dan pemujaan. Malam bagi orang-orang merindu, bertobat, malang, dan bimbang.

Sindhunata menggunakan puluhan halaman mengenai malam. Kita mendapatkan malam-malam indah. Kita berada dalam malam-malam tegang. Malam itu pembebasan. Malam kadang siksa.

Baca Juga: Sadegh Hedayat, Penulis Iran : Jika Tidak Ada Kematian, Semua Orang Akan Menginginkannya

Berkatalah tokoh bernama Begawan Swandagni kepada istri: “Dan kau adalah istri yang selalu menuruti kehendakku. Karena hendak mengikuti hasrat kesucianku, kau ikut-ikutan memandang bulan hanya sebagai terang. Kau kubur kegelapan nafsumu, dan kau hanya menghidupi terang bulan cintamu. Kau ikuti hasrat kesucianku, dan kau buanglah apa yang indah dalam hidupmu. Malam ini tiba-tiba aku merasa keindahan itu kembali ke dalam dirimu, dan aku tak tahu, tak mungkinlah aku mencintaimu, bila aku mengubur nafsuku, Sokawati.”

Kata-kata menjadikan malam itu indah dalam pertemuan raga. Mereka dalam perbuatan asmara. Mereka menuruti hasrat-nafsu. Bulan mengaku malu, undur agar malam menjadi gelap. Dewi Sokawati berujar setelah adegan kenikmatan: “Begawan, akhirnya bulan pun adalah kegelapan.”

Kita tak memiliki ketetapan berlaku abadi dalam mengartikan pagi dan malam. Pagi tak selalu indah. Malam belum tentu gelap. Pembaca memiliki biografi menikmati sastra lisan atau mengalami hidup dalam imajinasi epos dan mitos mungkin insaf atas pengisahan waktu oleh Sindhunata.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam menuliskan waktu tak memadai tapi kita maklum ada pengertian tak utuh. Waktu dalam cerita memerlukan kata-kata belum tentu ada dalam bahasa Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X