TINEMU.COM - Riak ombak di perairan Kabupaten Tangerang seolah membawa kegelisahan nelayan kecil yang hidupnya bergantung pada lautan. Di antara mereka, Kholid Miqdar, seorang nelayan dari Desa Singarajan, Kabupaten Serang, Banten, menjadi sorotan publik.
Suaranya yang lantang menembus ruang-ruang diskusi nasional ketika ia dengan berani menentang keberadaan pagar laut misterius yang membatasi ruang gerak para nelayan.
Keberadaan pagar laut sepanjang 30 kilometer itu menjadi pukulan berat bagi nelayan kecil. Bukan hanya membatasi akses mereka ke wilayah tangkap yang selama ini menjadi sumber kehidupan, tetapi juga mencerminkan bagaimana ketimpangan kekuasaan seringkali menekan kelompok masyarakat kecil.
Baca Juga: Geger Pecinan: Pemberontakan Tionghoa di Jawa Tahun 1740
Kholid, yang sejak kecil akrab dengan garam dan jaring, merasa ada sesuatu yang harus diperjuangkan. Tidak bisa ia diam melihat laut, rumahnya sejak lahir, dijadikan milik segelintir pihak.
Suara Kholid semakin nyaring ketika ia diundang sebagai narasumber di acara "Indonesia Lawyers Club" yang dipandu oleh Karni Ilyas. Di hadapan kamera dan publik luas, ia berbicara dengan tenang tetapi penuh ketegasan.
Dengan argumentasi yang kuat, ia menyampaikan bagaimana pagar laut itu bukan hanya menghambat mata pencaharian para nelayan, tetapi juga melanggar hak mereka untuk hidup.
Kata-katanya tidak hanya menyuarakan kegelisahan dirinya, tetapi juga ribuan nelayan lain yang selama ini terpaksa diam menghadapi ketidakadilan.
Baca Juga: Leonardo DiCaprio Siap Tampil dalam Film Karya Martin Scorsese
Kecerdasannya dalam merangkai argumen membuat banyak orang kagum. Tidak sedikit netizen yang mengusulkan agar ia menggantikan posisi Menteri Kelautan dan Perikanan. Tentu itu hanyalah ekspresi kekaguman, tetapi di baliknya ada pengakuan bahwa suara rakyat kecil seperti Kholid lebih mewakili realitas dibanding mereka yang duduk di kursi kekuasaan.
Perlawanan Kholid tidak berhenti di ruang diskusi. Ia berada di garda depan ketika proses pencabutan pagar laut dilakukan. Saat dirinya kembali ke komunitasnya, ia disambut bak pahlawan.
Para nelayan menyambutnya dengan tepuk tangan dan sorakan, bukan sekadar karena ia berhasil mengangkat isu ini ke tingkat nasional, tetapi karena keberaniannya memberikan harapan bahwa mereka tidak sendiri.
Baca Juga: Belasan Tradisi Imlek di Tiongkok yang Jarang Diketahui, Apa Saja?
Namun, perjuangan ini bukan hanya tentang pagar laut. Lebih dari itu, ini adalah tentang ketidakadilan yang terus berulang, tentang suara rakyat kecil yang sering dianggap tidak penting, dan tentang keberanian seorang nelayan yang menolak tunduk pada sistem yang menindas.
Kholid Miqdar bukan sekadar nelayan. Ia adalah wajah dari perlawanan nelayan kecil, simbol dari suara rakyat yang tak lagi bisa dibungkam.
Artikel Terkait
Raffi Ahmad Siap Kenalkan Hasil Riset dan Inovasi BRIN Pada Generasi Muda
Ardhito Pramono dan Ariel Tatum Bertemu dalam 'A Business Proposal'
Leonardo DiCaprio Siap Tampil dalam Film Karya Martin Scorsese