TINEMU.COM- Segera memasuki penyelenggaraan yang ke-17 di tahun 2025, Jazz Gunung, even di Kawasan Bromo, menjelma menjadi salah satu event jazz yang memiliki kekhasan tersendiri. Mengusung tema Indahnya Jazz, Merdunya Gunung pagelaran ini bukan sekadar ajang pentas musik belaka melainkan memadukan secara harmonis antara musik (jazz), alam hijau pegunungan, semilir angin, dan manusia. Hal tersebut menjadi nilai tambah, yang terus dipelihara dan dikembangkan sampai sekarang.
Peluang untuk menyempurnakan BRI Jazz Gunung Series terbuka dengan pandangan dari Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan, Vinsensius Jemadu, menyampaikan janjinya untuk mendukung kegiatan event BRI Jazz Gunung Series ini. "Bahkan nanti untuk BRI Jazz Gunung Series 3 Ijen di tanggal 9 Agustus 2025, saya sudah berbicara dengan penyelenggara dimana nanti kita bisa berkolaborasi," katanya saat jumpa pers di IFI, Thamrin, (Jakarta (3/7).
"Sebenarnya ada beberapa skema dukungan dari Kementerian Pariwisata, pertama yang pasti adalah amplifikasi promosi, dimana Kementerian Pariwisata akan menggunakan semua channel media promosinya, bahkan termasuk LED, Videotron yang berada di depan Patung Kuda di Kementerian Pariwisata bisa kita manfaatkan untuk bisa mengekspos kepada masyarakat luas. Sehingga nanti level of tendensinya jauh lebih banyak. Begitu juga media sosial yang dimiliki oleh Kementerian Pariwisata," ungkapnya.
Dukungan kedua Vinsen menyebutkan terkait sarana dan prasarana. "Jadi kalau kita bisa bicara bahasa birokrasi kita akan bisa melihat komponen-komponen yang sekiranya bisa kita pertanggung jawabkan untuk kita dukung maka ayo kita dukung. Apakah itu panggung, lighting, atau line up artis, jadi ada beberapa komponen yang bisa kita dukung, tetapi sekali lagi ditengah-tengah efisiensi dan penghematan seperti ini tentunya Kementerian Pariwisata juga tahu diri, kira-kira sejauh mana kita bisa support," tandasnya.
"Selama 17 tahun penyelenggaraan, baru tahun ini Jazz Gunung mendapatkan dukungan nyata dari pemerintah lewat kehadiran Vinsensius Jemadu dari Kementrian Pariwisata. Semoga dukungan kementerian tidak hanya berhenti di tataran wacana, tapi bisa diwujudkan agar manfaat ekonomi lebih terasa bagi masyarakat sekitar," kata Sigit Pramono,Founder Jazz Gunung.
Ditambahkannya juga bahwa Jazz Gunung kini berkembang menjadi BRI Jazz Gunung Series, sebuah rangkaian festival jazz di berbagai gunung seperti Bromo, Ijen, hingga Slamet, yang ide awalnya lahir dari diskusi dengan Andi F. Noya. Format “series” ini dinilai lebih menguntungkan secara komersial, baik bagi sponsor maupun pemerintah, karena mampu menciptakan dampak ekonomi yang lebih merata.
Selaku founder, Sigit juga memberi contoh konkret manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar Bromo: dari hotel, homestay, penyewa jeep dan kuda, hingga warung-warung kecil. “Kalau ada 2000 penonton, maka butuh 1000 kamar. Kami hanya punya 80, sisanya tersebar di sekitar Bromo, Pasuruan, Probolinggo, hingga Malang,” terangnya.
Di tahun ini, mereka juga memperluas dampak sosial ekonomi lewat penyelenggaraan festival yang diperpanjang menjadi dua hari dengan jeda seminggu, dilengkapi dengan pameran UMKM, seni, dan budaya. Kegiatan ini didukung oleh ISI Yogyakarta dan diharapkan mampu meneteskan manfaat ekonomi lebih luas ke komunitas lokal.
Jazz Gunung Bromo akan kembali hadir di Amphitheatre Jiwa Jawa Resort Bromo, Sukapura, Probolinggo. Pengalaman berbeda saat menyaksikan pertunjukkan Jazz Gunung Bromo dapat dirasakan dari pemandangan hijau pegunungan sebagai latar panggung yang menyegarkan mata, serta udara dingin dan sejuk yang terasa dari ketinggian hampir 2.000 meter di atas permukaan laut.
Pada penyelenggaraan di tahun 2025 ini, Jazz Gunung Series hadir dengan dukungan penuh dari BRI. Jazz Gunung Series terdiri dari tiga rangkaian events, yaitu BRI JAZZ GUNUNG. Terselenggara dalam tiga sesi yaitu Series 1: BROMO pada tanggal 19 Juli, BRI JAZZ GUNUNG Series 2: BROMO pada tanggal 26 Juli, dan BRI JAZZ GUNUNG Series 3: IJEN pada bulan Agustus.
Dimulai dengan BRI - JAZZ GUNUNG Series 1: BROMO yang akan menghadirkan penampilan kelompok muda, Emptyyy, Trio “generasi mendatang” yang membuktikan eksistensinya dengan talenta luar biasa dalam musik jazz. Kemudian penyanyi jazz yang performance-nya khas dan ia dikenal sebagai mantan VJ MTV, Jamie Aditya. Lalu juga ada kelompok campursari bersuasana jazz kental, Kua Etnika, tetap setia dengan membunyikan sajian east-meet-west, yang menggelitik dan menghibur. Selain dua kelompok musik yang “populer” pada eranya masing-masing, RAN, grup muda tahun 2000-an terdiri dari trio Rayi, Asta dan Nino, turut hadir memeriahkan BRI - JAZZ GUNUNG Series 1: BROMO. RAN memulai perjalanan bermusiknya lewat debut album Ran for Your Life yang dirilis tahun 2007 dan sampai saat ini lebih dari 17 tahun berkarir dalam musik, menghasilkan karya hits dan populer, baik dari album maupun kolaborasi dengan musisi lainnya.
Kelompok “legendaris”, Karimata dengan pengalaman bermusik yang matang, dengan formasi perdana terdiri dari adalah Candra Darusman (kibor), Aminoto Kosin (kibor), Denny TR (gitar), Erwin Gutawa (bass) dan (Alm) Uce Haryono (drums), siap meramaikan BRI - JAZZ GUNUNG Series 1: BROMO. Merilis album pertama di tahun 1985 bertajuk, Pasti, sejauh ini mereka telah merilis 5 album rekaman, dan yang terakhir dirilis tahun 1991, Jezz. Dalam tiga tahun terakhir ini, Karimata hidup kembali dengan formasi berbeda. Dengan nama Karimata yang telah dikenal luas, Karimata menunjukkan eksistensinya sebagai grup legendaris sampai saat ini.
Artikel Terkait
Masyarakat Betawi Pondok Pinang : Antara Kehilangan Identitas dan Eksistensi Statistik
Asrama Sinema KFT 2025 Resmi Dibuka: 30 Peserta Siap Menjadi Sineas Masa Depan
Main Main di Cipete Eps 18 Makin Bergizi bersama William Sihombing,Orchidaria,Meha dan Daniel Abraham
Percepat Transisi Energi Terbarukan, Danantara dan ACWA Power Teken Investasi Rp162 Triliun