Meski sempat mempertimbangkan rekaman konser era 1990-an, Slank akhirnya memilih periode 2002-2025 demi menjaga kualitas audio. Apalagi Slank sudah terbentuk sejak 1983, kemudian sempat mengalami masa jaya di era 1990-an hingga 1996 (masih era kaset dan CD) terutama formasi ke 13 mereka yang masih beranggotakan Pay, Bongky dan Indra Qadarsih.
"Sebenarnya kita pengen ambil dari era 90-an, cuma karena pertimbangan kualitas, meskipun kita ingin ini sebetulnya jadi perjalanan sejarah, karena ini merangkum banyak sekali perjalanan panjang Slank saat menggelar pertunjukan, tapi kita tetap harus melihat kualitas," jelas Bimbim.
Baca Juga: Konser Miliaran Cinta Andi Rianto dan Yovie Widianto Sukses Digelar
Slank juga melihat tren musik mereka sendiri yang berulang setiap tiga dekade sebagai momentum untuk kembali menghidupkan karya lama mereka.
"Saya percaya teori siklus 30 tahun sekali itu semua akan berulang, dan mungkin lagu Slank yang pernah dirilis 30 tahun lalu itu akan naik kembali, dan mungkin sekarang seperti itu juga, contohnya lagu Poppies Lane Memory itu. Makanya Slank rilis album yang berbalik lagi karena siklus tren yang berulang itu," ungkap Abdee yang setelah bergabung dengan Slank cukup banyak mengubah warna musik Slank menjadi lebih blues dan sedikit soul ala grup idola mereka, The Rolling Stones. Sedangkan di saat masih gitarisnya adalah Parlin Burman alias Pay musik Slank cenderung ke hard rock.
"Saya percaya gen Z itu seleranya tinggi dan milih-milih untuk dengerin lagu, dan sekarang gen Z menemukan itu," kata Ivanka.
Baca Juga: Tiara Andiri Rilis 'Adu Bola Mata', Perkenalan Menuju Album Keduanya
Perilisan album ini Slank juga ingin menandai bahwa kekuatan utama mereka yaitu performa panggung. Hal itu yang rupanya membuat mereka tak pernah takut dengan keberadaan AI di industri musik.
"Kekuatan Slank itu ya live, ada salahnya, ada ketidaksempurnaan, dan itu bukan AI, itu yang kita ingin tunjukkan ke generasi sekarang, ya pasti ketahuan mana musik yang bikinan manusia atau bukan, karena manusia itu dinamis, bisa eksplorasi, originalitas pasti akan hidup walau digempur AI," ujar Bimbim.
Meski era digital kian dominan, Slank tetap setia menghadirkan album fisik, termasuk vinyl yang kini justru kembali digemari.
Baca Juga: Fadhilah Intan Bawa OST 'Air Mata di Ujung Sajadah 2', Lagu untuk Mereka yang Memendam Luka
"Kita tuh selalu rilis album fisik. Bahkan pas 28 Desember 2024 lalu kami itu sebenarnya sudah terlambat merilis format vinyl, sementara band-band dan banyak penyanyi udah pada bikin. Akhirnya kita punya juga tuh album vinyl yang kita kasih nama Joged," cerita Kaka.
"Bahkan penjualan album fisik terutama vinyl itu justru sedang tinggi di seluruh dunia, dibandingkan zaman dulu, makanya kita tetap pasti rilis album fisik," tutup Bimbim.**
Artikel Terkait
Komunitas Seniman Musik Suroboyo (SMS) Hadir untuk Angkat Martabat Musik di Kota Pahlawan
Aisha Retno dan Ade Govinda Bikin Baper di Single 'Semoga Saja'
Yellowcard Rilis Single 'Bedroom Posters' Perkenalan Menuju Album 'Better Days'
PaSKI Gaungkan Hari Komedi Nasional di Car Free Day