Tim SAR gabungan tidak mau gegabah mengambil keputusan tanpa perhitungan, apalagi kondisi bangunan lama terlihat miring. Apabila dipaksakan, maka dikhawatirkan dapat merusak atau justru memicu robohnya gedung di sebelahnya. Jika itu terjadi, maka akan ada pekerjaan baru yang lebih berat.
Konsultan ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) pun didatangkan untuk memberikan rekomendasi. Hasilnya, tim diharuskan membuat penahan gedung lama yang masih berdiri agar selama proses cutting dapat dilakukan tanpa merusak apapun.
Baca Juga: JICAF 2025 Makin Semarak dengan Special Drop Musisi Isyana Sarasvati!
Fokus Pada Operasi SAR
Di tengah kendala yang dihadapi, Abdul Muhari menjelaskan fokus utama tim SAR adalah tetap melanjutkan pembersihan material yang sudah runtuh di sektor selatan.
“Tujuannya adalah memaksimalkan penemuan jenazah maupun potongan tubuh lainnya, sampai benar-benar dapat dipastikan semuanya sudah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian,” tuturnya.
Setelah semua itu berhasil dilakukan, maka langkah terakhir adalah memotong bagian yang terhubung dengan gedung lainnya. Segenap tim di lapangan terus berupaya semaksimal mungkin agar operasi SAR dan pembersihan dapat berjalan tanpa menimbulkan masalah baru.
Baca Juga: Agus Suwage dan Refleksi Kemanusiaan di Art Jakarta 2025
“Tim SAR gabungan yang bertugas selama 24 jam secara bergantian telah mendapatkan dukungan ketahanan fisik dan stamina selama melaksanakan misi kemanusiaan. Diharapkan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya,” pungkasnya.***
Artikel Terkait
Pesantren, Puisi, Bahasa
Ini Upaya Kemenag Tangani Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren
Mahasiswa Amerika Serikat Belajar Budaya Jawa di Pesantren Gunungkidul
Kabar Gembira! Lebih Dari Rp5 Miliar Tunjangan Profesi Guru Pesantren Telah Cair
Bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny Roboh, 1 Orang Meninggal Dunia