Populasinya Makin Menurun, Peneliti UGM Konservasi Gajah Sumatra

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Selasa, 8 Februari 2022 | 15:16 WIB
Peneliti UGM, Wisnu Nurcahyo dan tim mengembangkan strategi untuk menjaga dan menyelamatkan Gajah Sumatra dari ancaman kepunahan (Humas UGM)
Peneliti UGM, Wisnu Nurcahyo dan tim mengembangkan strategi untuk menjaga dan menyelamatkan Gajah Sumatra dari ancaman kepunahan (Humas UGM)

TINEMU.COM - Peneliti Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) Wisnu Nurcahyo dan tim mengembangkan strategi untuk menjaga dan menyelamatkan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) dari ancaman kepunahan. Upaya konservasi dilakukan bersama dengan sejumlah mitra.

Seperti yang dilakukan bersama dengan Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (VESSWIC), Wisnu dan tim menjalankan sejumlah program. Salah satunya meningkatan kualitas pengelolaan Gajah jinak Sumatra secara terpadu.

Selanjutnya, membangun Sistem Database Gajah jinak terkait data individual, rekam medis, identifikasi penyakit dan analisis DNA.

Baca Juga: Usai Kawin, Kunang-kunang Betina Memakan Sang Jantan untuk Tambahan Protein

“Gajah Sumatra yang menjadi subspesies Gajah Asia yang masih tersisa di dunia dengan status terancam punah dan populasinya terus menurun karena berbagai faktor. Oleh sebab itu upaya konservasi penting dilakukan guna menjaga dan melestarikan Gajah Sumatra ini,” papar Wisnu melalui keterangan tertulis pada Selasa, 8 Februari 2022.

Populasi Gajah Sumatra saat ini diperkirakan telah mengalami penurunan sekitar 35% dari tahun 1992 dan nilai ini merupakan penurunan yang sangat besar dalam waktu relatif pendek. Menurut World Wildlife Fund for Nature-Indonesia (2008) populasi gajah dengan total individu diperkirakan sebanyak 2400 -2800 ekor.

Banyak faktor yang mengakibatkan penurunan populasi Gajah Sumatra semakin tak terkendali. Wisnu menyebut aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, pembunuhan akibat konflik dan perburuan menjadi ancaman seirus yang memengaruhi kelestarian hewan ini.

Baca Juga: 20 Tahun AADC, Benarkah Clapper Boy-nya itu Indra Birowo?

Konflik antara antara manusia dan satwa liar terutama gajah terus meningkat seiring berjalannya waktu. Pemerintah pun telah membuat lokasi-lokasi untuk penanganan gajah jinak yang sudah dilatih untuk menangani gajah liar yang masuk pemukiman di daerah-daerah yang rawan konflik antara manusia dan satwa.

Kendati begitu permasalahan menjadi semakin kompleks. Dari sisi eksternal terkait dengan konflik manusia dengan satwa dan perburuan liar Gajah Sumatra untuk diambil gadingnya dan diperjualbelikan. Berdasarkan suatu studi menunjukan perdagangan online produk yang berasal dari gading gajah cukup tinggi.

Pada tahun 2016 ditemukan sekitar 570 penjual online gading gajah yang teridentifikasi dengan penjual aktif ditemukan di Provinsi Jawa Tengah. Pada 2019, dari tiga negara yaitu Indonesia, Vietnam dan Thailand menunjukan hanya negara Vietnam yang mengalami penurunan jumlah penjualan gading gajah.

Baca Juga: Suster Dilantik Jadi Ketua RT di Bandung

Sementara dari sisi internal berkaitan dengan kondisi gajah yang ditangkap dan masuk ke dalam Pusat Latihan Gajah (PLG) yang dalam jangka waktu yang lama akan mempengaruhi keberagaman genetik dan struktur populasi.

Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan aliran gen dan peningkatan “genetic drift” serta resiko perkawinan sesama keluarga (inbreeding). Perbedaan asal usul dari Gajah Sumatra yang berada di PLG juga dapat mempengaruhi keberagaman genetik dari satwa endemik Indonesia ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Tags

Rekomendasi

Terkini

Astrid Rilis Album Terbarunya Lewat Jalur Indie

Rabu, 15 April 2026 | 20:44 WIB

Reli IHSG Dinilai Rentan dan Bersifat Sementara

Senin, 13 April 2026 | 10:43 WIB
X