KRLmania Dorong KCI Tinjau Kembali Penerapan SO 5

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Sabtu, 28 Mei 2022 | 13:13 WIB
Ilustrasi KRL sedang melintasi Stasiun Manggarai. KRLmania mendorong PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) meninjau kembali penerapan Switch Over ke-5 (SO 5) di Stasiun Manggarai. (kai.id)
Ilustrasi KRL sedang melintasi Stasiun Manggarai. KRLmania mendorong PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) meninjau kembali penerapan Switch Over ke-5 (SO 5) di Stasiun Manggarai. (kai.id)

TINEMU.COM - Pelaksanaan Switch Over ke-5 (SO 5) di Stasiun Manggarai oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mengakibatkan perubahan pola operasi dan rute perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek mulai 28 Mei 2022.

Perubahan pola operasi KRL Jabodetabek setelah Switch Over ke-5 terjadi pada rute perjalanan KRL lintas Cikarang/Bekasi dan lintas Bogor/Depok/Nambo, serta pola transit pengguna KRL di Stasiun Manggarai.

KRLmania, komunitas pengguna KRL mendorong PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sebagai pengelola KRL untuk memperhatikan aspek kenyamanan dan keamanan dari penumpang/pengguna KRL selama proses transisi ini.

Baca Juga: Srimulat Hil yang Mustahal Babak Pertama: Biopik Tak Biasa

Hal tersebut disampaikan Koordinator KRLmania, Nurcahyo berdasarkan aspirasi yang dikumpulkan baik secara offline maupun online di kanal-kanal informasi-komunikasi KRLmania serta mayoritas opini terkait pelaksanaan SO 5.

KRLmania menilai perubahan ini akan menganggu pergerakan penglaju yang terbiasa menggunakan KRL sebagai moda transportasi sehari-hari. Contohnya, pengguna lintas Bogor saat ini akan berhenti di jalur layang di lantai 3 manggarai (peron 11, 12, dan 13). Penumpang yang tadinya bisa langsung menuju Stasiun Angke harus transit ke Jalur lintas Bekasi di lantai 1.

Sebaliknya pengguna Jalur Bekasi harus pindah ke lantai 3 dari lantai 1 apabila ingin berpindah jalur lintasan. Selain itu, konsep ideal dalam transportasi publik adalah mengurangi transit, bukannya menambah transit penumpang seperti yang terjadi pada SO5.

Baca Juga: Inilah Tujuh Rekomendasi Agenda Bali untuk Resiliensi Berkelanjutan

Menurut Nurcahyo, kesiapan dari operator menjadi perhatian karena apabila terjadi masalah dalam proses transit maka akan sangat mungkin menyebabkan pengguna KRL akan beralih menggunakan kendaraan pribadi yang akan memberatkan beban transportasi jalan raya.

“Potensi terjadi bottlenecking sangat mungkin terjadi mengingat meskipun Stasiun Manggarai sudah dilengkapi dengan fasilitas lift dan escalator, kedua fasilitas tersebut sering ditemukan tidak beroperasi. Perihal beroperasi atau tidak, kedua fasilitas tersebut belum menjadi bagian dari standar pelayanan minimum yang disusun pada SPM 2019,” tutur Nurcahyo.

Di sisi lain, letak platform cukup tinggi dan tangga yang ada cukup curam sehingga sangat berat untuk ditempuh manula, orang sakit, dan anak anak.

Baca Juga: Gotong-Royong Atasi Banjir Rob Semarang

“Bilamana rusak, hal ini akan mengakibatkan menurunnya kapasitas transit Stasiun Manggarai dan berakibat penumpukan penumpang,” lanjut Nurcahyo melalui keterangan tertulis pada Minggu, 28 Mei 2022.

“Selain itu, jadwal lintas Bogor dan Bekasi perlu disesuaikan jadwalnya agar transit dapat berjalan dengan lancar yang dibantu dengan feeder mengingat lintas Bogor memiliki okupansi terbanyak yaitu mencapai 60% dari jumlah pengguna KRL yang sebelumnya sudah terbagi dengan baik antara jalur Jakarta Kota dan jalur loop ke Jatinegara via Angke,” tambahnya lagi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Astrid Rilis Album Terbarunya Lewat Jalur Indie

Rabu, 15 April 2026 | 20:44 WIB

Reli IHSG Dinilai Rentan dan Bersifat Sementara

Senin, 13 April 2026 | 10:43 WIB
X