Pantai Minahasa Selatan Abrasi, BMKG Optimalkan Alat Pengamatan Cuaca

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Minggu, 19 Juni 2022 | 14:22 WIB
Pantai Minahasa Selatan mengalami Abrasi, BMKG mengoptimalkan alat pengamatan cuaca untuk memperkuat deteksi dini kecuacaan. (Humas BMKG)
Pantai Minahasa Selatan mengalami Abrasi, BMKG mengoptimalkan alat pengamatan cuaca untuk memperkuat deteksi dini kecuacaan. (Humas BMKG)

TINEMU.COM - Pantai Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, mengalami abrasi. Sejumlah warga sekitar menjadi korban di tengah cuaca yang kurang bersahabat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan alat pengamatan cuaca untuk memperkuat deteksi dini kecuacaan di tengah potensi bahaya abrasi susulan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan ratusan peralatan BMKG tersebar di seluruh Sulut. Salah satu alat yang dipasang adalah Peralatan Pengamatan Cuaca Otomatis atau AWS yang sudah lama beroperasi dan terpasang di halaman depan Kantor Bupati Minahasa Selatan.

Baca Juga: Konsentrasi PM2.5 di Udara Jakarta Meningkat, Ini Dampaknya Menurut BMKG

Hal itu Guswanto sampaikan di sela rapat koordinasi di Kantor Bupati Minahasa Selatan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Jumat, 17 Juni 2022

Setelah melakukan rapat koordinasi di Kantor Bupati Minahasa Selatan, rombongan BNPB dan BMKG melakukan peninjauan di lokasi abrasi dan mengunjungi posko pengungsi.

Guswanto menambahkan bahwa tim juga sudah membawa beberapa peralatan pengamatan cuaca otomatis yang bersifat portable PAWS sehingga bisa dipasang di lokasi yang ditinjau.

Baca Juga: Muhibah Budaya Jalur Rempah Pertemukan Empat Kesultanan Maluku Kie Raha di KRI Dewaruci

BMKG, kata dia, juga akan melakukan kajian lanjutan dan memasang Portable Digital Seismometer (PDS) untuk mengukur frekuensi natural atau periode dominan di dekat lokasi abrasi di Pantai Minahasa Selatan.

Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, yang turut mendampingi Deputi Meteorologi juga memberi imbauan kepada masyarakat pesisir agar waspada dan menyiapkan upaya adaptasi mitigasi terhadap lima bahaya pesisir.

Beberapa bahaya pesisir yang bisa mengancam masyarakat pesisir, kata dia, meliputi rob/ banjir pesisir, abrasi, gelombang tinggi, storm surge/badai dan tsunami.

Baca Juga: Mau Kuliah Gratis? Segera Daftar, Beasiswa SDM Sawit 2022 Telah Dibuka

"Masyarakat pesisir wajib memahami kondisi topografi lingkungannya," katanya.

Adapun abrasi di Pantai Minahasa Selatan membuat puluhan keluarga atau ratusan jiwa di Amurang, Minahasa Selatan, harus mengungsi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: humas BMKG

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Astrid Rilis Album Terbarunya Lewat Jalur Indie

Rabu, 15 April 2026 | 20:44 WIB

Reli IHSG Dinilai Rentan dan Bersifat Sementara

Senin, 13 April 2026 | 10:43 WIB
X