Ada Petisi Kembalikan WFH, Ini Tanggapan Pakar UGM

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Jumat, 6 Januari 2023 | 09:44 WIB
Ilustrasi Work From Home (WFH).   (Pixabay.com/Elf-Moondance)
Ilustrasi Work From Home (WFH). (Pixabay.com/Elf-Moondance)

TINEMU.COM - Belum lama ini viral di media sosial sebuah petisi kembalikan Work From Home (WFH) di Jakarta. Work From Office (WFO) membuat macet menjadi salah satu hal yang disorot dalam petisi tersebut. Kondisi itu memengaruhi para pekerja menjadi stres dan berdampak pada performa kerja yang kurang optimal.

Pengamat tata rancang kota sekaligus Ketua Pusat Studi Transportasi (PUSTRAL) UGM, Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., menanggapi persoalan tersebut. Menurutnya, petisi kembalikan Work From Home (WFH) cukup logis.

Melihat pengalaman saat pandemi Covid-19, banyak pihak terutama pekerja kantoran yang merasakan sejumlah manfaat dengan sistem kerja secara Work From Home (WFH). Mulai dari efisiensi waktu, penghematan bahan bakar, menekan emisi gas dan polusi akibat penggunaan kendaraan menuju tempat kerja, dan lainnya.

Baca Juga: Cerbung Zabidi Zay: Petualangan Bocah-Bocah Sorotan (42)

Ikaputra mengatakan jauh sebelum pandemi Covid-19 sebenarnya sudah dikenalkan teknologi komunikasi secara online namun masih jarang digunakan untuk mendukung proses kerja.

Adanya pandemi memaksa sebagian besar orang menggunakannya untuk mendukung kerja dari rumah. Dari situasi tersebut muncul pemahaman tentang keuntungan penggunaan teknologi komunikasi secara online ini untuk para pekerja.

“Namun juga perlu dipahami ada banyak sektor termasuk transportasi yang tidak bergerak dan tidak produktif terutama yang bekerjanya harus bertatap muka dan memanfaatkan mobilitas, bukan kantoran. Ketika tidak bergerak, dirumah saja, ada banyak orang yang tidak mendapatkan penghasilan,” tutur Ikaputra pada Kamis, 5 Januari 2023.

Baca Juga: Paket Wisata Kopi Kintamani Tawarkan Pengalaman Unik dan Menarik

Dosen pada Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM ini menyampaikan bahwa persoalan yang sebenarnya bukanlah pada kebijakan WFH atau WFO. Namun, lebih ke arah bagaimana menggunakan sistem komunikasi yang memudahkan orang-orang berkegiatan dalam berbagai aspek kehidupan.

“Bukan WFH atau WFO tapi pengelolaan tentang komunikasi online atau offline ini yang lebih penting, semuanya harus jadi opsi,” tegasnya.

Terkait kemacetan di Ibu Kota karena kembalinya sistem kerja dengan WFO, Ikaputra mengatakan hal tersebut bisa ditekan apabila masyarakat memiliki kesadaran dan kemauan untuk memanfaatkan transportasi publik sebagai wahana transportasi menuju tempat kerja ataupun menjalani aktivitas lainnya.

Baca Juga: Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Tetap, PLN Siap Memasok Listrik Andal

Namun sampai saat ini masih banyak masyarakat di Jakarta yang memilih menggunakan kendaraan pribadi sebagai alat mobilitas sehari-hari daripada memakai transportasi publik.

“Untuk itu penting membangun mindset dan budaya memahami keuntungan menggunakan transportasi publik itu banyak manfaatnya,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Humas UGM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Astrid Rilis Album Terbarunya Lewat Jalur Indie

Rabu, 15 April 2026 | 20:44 WIB

Reli IHSG Dinilai Rentan dan Bersifat Sementara

Senin, 13 April 2026 | 10:43 WIB
X