Bayi dan anak kecil yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk menyampaikan kebutuhan atau perasaan mereka, sering kali menggunakan menangis sebagai cara untuk berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.
Baca Juga: Inilah Penemuan dan Keunikan Golongan Darah Tipe P!
Oleh karena itu, menangis dianggap sebagai langkah awal dalam pengembangan keterampilan komunikasi verbal.
Dari sudut pandang filosofis, tokoh seperti Kahlil Gibran dan Arthur Schopenhauer memberikan pandangan yang menarik tentang makna dan manfaat menangis.
Gibran, dalam karyanya "The Prophet," menyatakan bahwa menangis adalah "pintu menuju hati yang terbuka" dan bahwa dengan menangis, seseorang membuka diri untuk memahami dan merasakan lebih dalam tentang kehidupan dan emosi.
Schopenhauer, seorang filsuf Jerman yang menggagas konsep kehendak hidup, melihat menangis sebagai ekspresi dari penderitaan yang melekat pada kehidupan manusia.
Menurutnya, menangis adalah bentuk pelepasan dari derita, dan melalui pengalaman penderitaan, manusia dapat mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
Baca Juga: Unik! Lagu Ngluwihi Tiara Andini Berjudul Jawa Berbahasa Inggris
Sementara itu, filosof Yunani kuno, Aristoteles, juga memberikan perspektifnya tentang menangis.
Dalam karyanya "Poetics," Aristoteles menyatakan bahwa menangis adalah cara membersihkan jiwa dari emosi yang terlalu kuat dan menciptakan keseimbangan emosional.
Baginya, menangis dapat menjadi katarsis, proses pemurnian dan pelepasan emosi yang membantu manusia untuk tetap seimbang.**
Artikel Terkait
Rumi dan 3 Januari
Setiap Orang Ingin Bahagia. Apa Sih Definisi Kebahagiaan Itu?
Nobar Debat Capres Bareng Jacques Rancière
Makam - Makam Nabi dan Rasul Allah yang Diyakini Kebenarannya