Indonesia Bertutur 2024: Rajut Harmoni melalui Subak

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Selasa, 13 Agustus 2024 | 14:10 WIB
Kemendikbudristek menggelar Indonesia Bertutur 2024 yang mengusung tema Subak: Harmoni dengan Pencipta, Alam, dan Sesama. (kemdikbud.go.id)
Kemendikbudristek menggelar Indonesia Bertutur 2024 yang mengusung tema Subak: Harmoni dengan Pencipta, Alam, dan Sesama. (kemdikbud.go.id)

TINEMU.COM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan kembali menggelar Indonesia Bertutur (Intur) pada 7-18 Agustus 2024 di Bali.

Direktur Perfilman Musik dan Media, Ahmad Mahendra mengatakan bahwa Indonesia Bertutur diselenggarakan dua tahun sekali.

Gelaran Indonesia Bertutur tahun pertama bertepatan dengan G20 di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dengan tema “Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan”.

Baca Juga: Presiden Jokowi Resmikan Taman Kusuma Bangsa

Indonesia Bertutur 2024 mengusung tema "Subak: Harmoni dengan Pencipta, Alam, dan Sesama”. Filosofi Subak yang diusung Indonesia Bertutur sarat akan makna keseimbangan hubungan antara manusia dengan pencipta, sesama, dan alam.

Konsep ini dikenal oleh masyarakat Hindu Bali sebagai falsafah Tri Hita Karana. Selain itu, sistem Subak sendiri telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 2012.

Mahendra menjelaskan tentang pentingnya memahami Subak yang sudah dikenal di mancanegara. Menurutnya, Subak yang tidak hanya tentang Indonesia saja, tapi juga dunia.

Baca Juga: Tusita, Zita, Clasutta. Tiga Perupa Muda D-Gallerie di Ajang ArtMoments 2024

“Subak itu tentang air; keadilan air, harmoni dengan pencipta, harmoni dengan alam, harmoni dengan sesama dengan sesama itu sebenarnya kunci keberlangsungan manusia, keberlangsungan dunia,” ujarnya saat gelar wicara Silaturahmi Merdeka Belajar (SMB) di Balai Budaya Kantor Perbekel Batubulan, Gianyar, Bali pada 8 Agustus 2024.

Terkait peran pemerintah dalam upaya pemajuan kebudayaan, Mahendra mengatakan bahwa peran pemerintah selain sebagai pembuat aturan, saat ini juga memperkuat tata telola kebudayaan dan peran pemerintah sebagai fasilitator.

“Poin pentingnya sebagai fasilitator, pemerintah menerima ide-ide dan membuka ruang untuk memperkuat ekosistem kebudayaan. Saat ini banyak akses untuk pelaku budaya, di antaranya Dana Indonesiana, beasiswa untuk pelaku budaya, dan Indonesiana TV sebagai platform media kebudayaan,” jelas Mahendra.

Baca Juga: Catatan Acep Iwan Saidi atas Karya Asmudjo; Tubuh Antroposen Sebuah Proposisi

Direktur Artisitik Indonesia Bertutur 2024, Melati Suryodarmo, menjelaskan bahwa para seniman yang terlibat di Intur bersumber dari pemikiran Subak. Ia mengatakan bahwa Subak bukan hanya mengenai sistem perairan.

Subak, lanjutnya, tidak hanya mengenai sistem perairan, padi, terasering. Subak itu adalah kesepakatan warga, kebersamaan, unsur menguatkan dengan Tuhan, alam, dan dengan sesama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: kemdikbud.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB
X