Tokoh (Menggugah) Indonesia

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Jumat, 14 Februari 2025 | 21:06 WIB
Ilustrasi Manga untuk YB Mangunwijaya (Dedy Tri Riyadi)
Ilustrasi Manga untuk YB Mangunwijaya (Dedy Tri Riyadi)

TINEMU.COM - Buku baru terbit. Buku ingin mengantar misi besar: menjadikan tokoh diangkat sebagai pahlawan. Tokoh itu bernama YB Mangunwijaya.

Buku berisi beragam tulisan diterbitkan dalam pengakuan dan pengukuhan pengaruh-pengaruh YB Mangunwijaya dalam arsitektur, pendidikan, gerakan sosial, sastra, dakwah, teknologi, dan lain-lain.

Buku itu berjudul YB Mangunwijaya: Demi Manusia dan Bangsa (2025). Buku tebal menanti pembaca dengan ketebalan iman, pengetahuan, estetika, dan etika.

Buku mengesahkan YB Mangunwijaya sebagai manusia-buku telah mewariskan kata dan makna untuk Indonesia. Buku pun turut dalam tata cara pengajuan pahlawan di Indonesia. Buku bukan sekadar bacaan.

Kini, kita memikirkan jalinan sosok, buku, dan gelar (pahlawan). Di majalah Intisari edisi Desember 1985, kita berakraban dengan YB Mangunwijaya saat muda.

Baca Juga: Cek Kesehatan Gratis, Biaya Nol Rupiah

Ia berbagi pengalaman menimbulkan rancu makna bagi kita. Pada suatu hari di Malang, YB Mangunwijaya menjadi saksi omongan komandan TRIP Mayor Isman: “Saudara-saudara sekalian, saya tidak menghendaki saudara menyanjung kami sebagai pahlawan. Kami bukan pahlawan. Kami sebetulnya tergolong penjahat. Kami sudah membunuh orang, merampok, dan membakar rumah. Kami masih muda tapi tangan kami sudah berlumuran darah. Memang semua itu kami lakukan demi kemerdekaan Indonesia tapi segala yang berhubungan dengan pembunuhan telah kami lakukan.”

Indonesia setelah 1945 memang ruwet, guncang, dan kisruh. Pengharapan atas nama kemerdekaan dan kedaulatan mencipta keberanian bertaruh hidup-mati.

YB Mangunwijaya turut dalam perang tapi tersadarkan untuk memilih menjadi manusia, merujuk pidato komandan di hadapan orang-orang: “… bimbinglah kami agar menjadi orang biasa di tengah masyarakat untuk membangun Indonesia yang sudah merdeka ini.”

Baca Juga: LRT Jabodebek in Love Hadirkan Kompetisi Seru dan Bagikan Es Cokelat Gratis

YB Mangunwijaya memang tak berlanjut menempuhi jalan militer. Ia berada dalam jalan pengetahuan dan iman tapi terus memberi persembahan-persembahan untuk Indonesia.

Pada 2025, nama besar itu perlahan diajukan agar menjadi pahlawan. Sosok ingin menjadi manusia biasa berlatar zaman revolusi bakal berubah pengertian setelah kematian dan pelbagai warisan.

Pada suatu hari, YB Mangunwijaya memenuhi panggilan iman, menekuni arsitektur, mengadakan gerakan sosial-kultural, dan bergairah sastra. Ia tinggal di pinggir kali (Jogjakarta). Ia memilih menjadi manusia-buku, bukan manusia-senjata seperti masa silam.

Kita mendapat gambaran rumah dihuni YB Mangunwijaya masa 1980-an: “Rumah yang terbuat dari kayu, dinding gedek dan beratap genting itu hanya terdiri atas satu kamar, dapur, dan kamar mandi yang sempit. Kamarnya sarat dengan buku dan gambar. Buku-buku tersusun dalam rak-rak kecil sederhana di seputar kamar, sedangkan gambar-gambar menempel di dinding dan langit-langit.”

Baca Juga: Cakra Khan Siap Taklukan Malaysia dan Singapura

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB
X