TINEMU.COM - Buku baru terbit. Buku ingin mengantar misi besar: menjadikan tokoh diangkat sebagai pahlawan. Tokoh itu bernama YB Mangunwijaya.
Buku berisi beragam tulisan diterbitkan dalam pengakuan dan pengukuhan pengaruh-pengaruh YB Mangunwijaya dalam arsitektur, pendidikan, gerakan sosial, sastra, dakwah, teknologi, dan lain-lain.
Buku itu berjudul YB Mangunwijaya: Demi Manusia dan Bangsa (2025). Buku tebal menanti pembaca dengan ketebalan iman, pengetahuan, estetika, dan etika.
Buku mengesahkan YB Mangunwijaya sebagai manusia-buku telah mewariskan kata dan makna untuk Indonesia. Buku pun turut dalam tata cara pengajuan pahlawan di Indonesia. Buku bukan sekadar bacaan.
Kini, kita memikirkan jalinan sosok, buku, dan gelar (pahlawan). Di majalah Intisari edisi Desember 1985, kita berakraban dengan YB Mangunwijaya saat muda.
Baca Juga: Cek Kesehatan Gratis, Biaya Nol Rupiah
Ia berbagi pengalaman menimbulkan rancu makna bagi kita. Pada suatu hari di Malang, YB Mangunwijaya menjadi saksi omongan komandan TRIP Mayor Isman: “Saudara-saudara sekalian, saya tidak menghendaki saudara menyanjung kami sebagai pahlawan. Kami bukan pahlawan. Kami sebetulnya tergolong penjahat. Kami sudah membunuh orang, merampok, dan membakar rumah. Kami masih muda tapi tangan kami sudah berlumuran darah. Memang semua itu kami lakukan demi kemerdekaan Indonesia tapi segala yang berhubungan dengan pembunuhan telah kami lakukan.”
Indonesia setelah 1945 memang ruwet, guncang, dan kisruh. Pengharapan atas nama kemerdekaan dan kedaulatan mencipta keberanian bertaruh hidup-mati.
YB Mangunwijaya turut dalam perang tapi tersadarkan untuk memilih menjadi manusia, merujuk pidato komandan di hadapan orang-orang: “… bimbinglah kami agar menjadi orang biasa di tengah masyarakat untuk membangun Indonesia yang sudah merdeka ini.”
Baca Juga: LRT Jabodebek in Love Hadirkan Kompetisi Seru dan Bagikan Es Cokelat Gratis
YB Mangunwijaya memang tak berlanjut menempuhi jalan militer. Ia berada dalam jalan pengetahuan dan iman tapi terus memberi persembahan-persembahan untuk Indonesia.
Pada 2025, nama besar itu perlahan diajukan agar menjadi pahlawan. Sosok ingin menjadi manusia biasa berlatar zaman revolusi bakal berubah pengertian setelah kematian dan pelbagai warisan.
Pada suatu hari, YB Mangunwijaya memenuhi panggilan iman, menekuni arsitektur, mengadakan gerakan sosial-kultural, dan bergairah sastra. Ia tinggal di pinggir kali (Jogjakarta). Ia memilih menjadi manusia-buku, bukan manusia-senjata seperti masa silam.
Kita mendapat gambaran rumah dihuni YB Mangunwijaya masa 1980-an: “Rumah yang terbuat dari kayu, dinding gedek dan beratap genting itu hanya terdiri atas satu kamar, dapur, dan kamar mandi yang sempit. Kamarnya sarat dengan buku dan gambar. Buku-buku tersusun dalam rak-rak kecil sederhana di seputar kamar, sedangkan gambar-gambar menempel di dinding dan langit-langit.”
Artikel Terkait
Kebijakan Belanda Membuat Bandung Tak Punya Pecinan
Humaniora Digital, Langkah Modernisasi Manuskrip Naskah Kuno ke Seni Pertunjukan
Cerita, Pram dan Tagore
Jujun S Suriasumantri, Tokoh dan Tiga Bukunya