TINEMU.COM - Raga terbukti fana. Lelaki itu sadar raga merapuh. Ia menerima meski mula-mula “membantah” dengan campuran kecewa, bingung, dan takut.
Penerimaan atas kondisi tubuh untuk selesai. Lelaki tua tak wajib mengulang pelajaran biologi atau anatomi. Ia sanggup merasakan raga memang mau tamat. Kesadaran atas konsekuensi sakit. Kematian tinggal satu meter.
Lelaki itu biasa dipanggil Morrie. Waktu tersisa sebelum mati, ia masih sanggup menjadi pengisah dan pemberi makna hidup. Morrie merenung dalam kondisi sakit parah.
Ia tetap berpikir menghasilkan kata-kata menguatkan: “Ketika menderita luka di tubuh, kita cenderung berpikir bahwa luka itu merupakan luka atas diri kita secara total. Namun, penting sekali bagiku untuk mengatakan tegas kepada diri sendiri bahwa tubuhku hanyalah bagian dari siapa diriku yang sebenarnya. Kita jauh lebih besar ketimbang seluruh bagian tubuh kita.”
Baca Juga: Siap-Siap Petualangan Ajaib di Lebaran 2025 Bersama 'Jumbo'!
Sikap tak mau runtuh dan jatuh dengan sekadar raga. Ia tak sedang berfilsafat tubuh.
Hidup telah berubah. Dunia masih ada menanti tafsiran. Manusia tetap berhak menjadi penghasil makna. Morrie mengerti tersisa sedikit waktu.
Hari-hari dialami justru bergelimang makna melalui percakapan dengan diri dan percakapan bareng teman-teman. Ia menggerakkan kata meski mengalami penurunan kemampuan dalam menghasilkan dan menata kata.
Kondisi sulit: “Ketika aku membuat suara ‘o’, suara ini menyangkut di tenggorokanku. Dan, kemampuan berbicaraku seolah tertelan. Itu tanda awal aku kehilangan suara. Selama hidup, aku berharap bisa berbicara. Harapan itu kuat dalam diriku sehingga ketika aku harus menghadapi kenyataan tidak bisa berbicara, hal itu menyebabkan tekanan-kepiluan yang sangat besar.”
Baca Juga: Berdering dan Kesepian
Ia masih ingin terhubung dengan sesama (manusia) dan dunia tapi raga makin rapuh berakibat sulit mengucap kata-kata.
Di buku tipis berjudul Cahaya di Ujung Senja (2004), Morrie Schwartz seperti menuntun kita dalam situasi rumit menjadi manusia untuk sirna. Raga itu fana.
Kemerosotan raga memang kepastian, Morrie meladeni dengan berbagi cerita. Orang-orang menerima sebagai hikmah hidup dan mati.
Morrie “terjebak” bijak saat raga makin memberi batasan dan mengurangi segala hasrat. Ia mengungkapkan: “Bersikap pasrah terasa jauh lebih berat ketimbang seharusnya karena pada dasarnya kita tidak mau menerima takdir yang sudah semestinya, kematian. Kita semua akan mati, tetapi kita cenderung mengingkarinya atau berpaling darinya, atau merasa, secara tidak masuk akal, bahwa kita tidak akan mengalami kematian.”
Artikel Terkait
Jujun S Suriasumantri, Tokoh dan Tiga Bukunya
Tokoh (Menggugah) Indonesia
Manfaat Makan Ketimun bagi Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui
Letjen TNI M. Saleh Mustafa, Bon Jovi dan IPL Award 2025