TINEMU.COM - Lebaran belum selesai dengan salaman dan kata-kata. Lebaran bukan cuma makanan di atas meja. Lebaran masih seru dengan peredaran amplop berisi uang: dari tangan ke tangan. Lebaran pun kesibukan kamera.
Konon, Lebaran sempurna dengan kamera. Di kampung-kampung, keluarga berkumpul memerlukan dokumentasi dan pengesahan kehadiran. Mereka sudah berbusana apik.
Dandanan memunculkan cantik dan tampan. Kebersamaan saat Lebaran membenarkan kesibukan kamera menghasilkan puluhan atau ratusan potret.
Mereka berkumpul di ruang tamu dalam suasana gembira dan menang. Suasana dianggap tambah bermutu bila mereka berpotret. Kamera-kameran bergantian mengikuti kemauan keluarga dalam menampilkan selaras dan bahagia.
Mereka memberi wajah semringah. Foto keluarga terlarang cemberut. Mereka mengharuskan kemunculan imajinasi-imajinasi (visual) bertajuk keindahan, keistimewaan, atau keagungan.
Pelbagai keinginan diwujudkan di depan kamera meski samar dan fana. Di depan kamera, keluarga-keluarga tercipta dalam hitungan detik dan menit. Kita sulit memastikan keluarga di depan kamera itu utuh, rukun, dan seru.
Janji (sementara) mungkin dibuat agar saat di depan kamera kehadiran mereka “sempurna”. Sengketa, cemburu, jengkel, marah, dan sedih dianjurkan terbuang dengan mengganti wajah dan gerak agar terkenang sepanjang masa.
Ruang tamu atau ruang keluarga tiba-tiba menjadi studio. Keluarga-keluarga tak ingin peristiwa kumpul bareng berlalu.
Baca Juga: Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 2025 6-7 April 2025, AHY: Kita akan Pantau Terus
Mereka bisa saja mengabaikan produksi cerita demi menghasilkan ratusan foto. Cara duduk dan berdiri diperhitungkan agar mengesankan estetis. Pengaturan jarak dan terang sempat menimbulkan ribut tapi gampang terselesaikan melalui uji coba.
Kamera-kamera dalam kesibukan meladeni selebrasi Lebaran. Kita mengandaikan keluarga itu tiada atau absen jika tak ada kamera.
Keluarga sulit tampil semua saat berada di ruang tamu (sempit) memilih berada di depan rumah. Mereka berfoto di depan rumah berarti berada di pinggir jalan.
Pemandangan itu tampak di jalan-jalan kampung saat Lebaran, 31 Maret 2025. Pilihan di depan rumah dapat merujuk pertimbangan estetika atau biografis.
Rumah itu “sumber” pembentukan keluarga menjadi cabang-cabang dan bersebaran. Pada saat Lebaran, mereka kembali ke rumah. Pemotretan menjadi wajib agar hari suci tak sia-sia.
Artikel Terkait
Zay Zabidi Rilis Lagu Sukacita Lebaran 2025, Album Lebaran Penuh Haru dan Gembira
Anak, Lagu dan Lebaran
Lebaran, Kehilangan dan Pertemuan
Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 2025 6-7 April 2025, AHY: Kita akan Pantau Terus