TINEMU.COM - Politik dihidupkan dan dimatikan dengan berjabat tangan atau salaman. Konon, mufakat dan khianat dalam politik ditentukan adegan tangan. Kita tak abai main mata atau main kata.
Anggapan politik itu main tangan gara-gara kita melihat para tokoh politik sedang pamer salaman di depan tatapan mata ribuan orang. Salaman pun diusahakan menjadi peristiwa “estetisasi politik” melalui kamera dan pembuatan berita.
Konon, sekian hari lalu, dua tokoh penting di Indonesia bertemu. Kita melihat foto mereka duduk dan bercakap. Mata publik ingin mengetahui posisi duduk. Publik mungkin melewatkan adegan salaman.
Dua tokoh itu sama predikat: ketua umum di partai politik terbesar di Indonesia. Satu tokoh pernah menjadi presiden. Satu tokoh sedang menunaikan misi sebagai presiden.
Baca Juga: 'Mendadak Dangdut' Siap Menggoyang Bioskop Mulai 30 April 2025!
Penantian agak lama terjawab meski kita tak dituntut mengartikan kemauan mereka bersalaman. Sekian pihak mengartikan salaman itu “maaf”. Tafsir berbeda diajukan: salaman itu rukun, damai, dan “bersama lagi”.
Mereka dalam kancah politik enggan “bermusuhan”. Pertemuuan dan salaman dijadikan cara mengabarkan akrab.
Kita tinggalkan salaman “terpenting” dengan mengingat adegan salaman kolosal di seantero Indonesia. Pentas salaman diadakan di rumah, sekolah, kantor, dan lain-lain.
Tangan dijadikan pengesahan permintaan maaf dan pemberian maaf. Pemaknaan religius dibarengi kesadaran atas tanda-tanda dimainkan tubuh dalam pergaulan sosial.
Baca Juga: Anime Festival Asia Akan Hadir di Jakarta Juni 2025!
Di kalangan sering terpisah, salaman melunaskan kangen. Salaman menjadi tindakan “pemulihan” atas segala mengalami penundaan dan pembatasan.
Salaman kangen disempurnakan tangisan dan tuturan menguak perasaan-perasaan klise. Salaman tak sekadar urusan maaf. Di peristiwa jabat tangan, kita melihat pertautan dalam lega dan bimbang.
Salaman itu melampaui motif-motif picisan dalam politik. Pentas salaman kaum politik sering mengibuli publik. Salaman bermaksud “mengharamkan” ketulusan, janji suci, kasih, dan tebar doa.
Di lakon-lakon penting dan darurat, salaman biasa diperalat demi mewujudkan kebijakan dan persekongkolan tak suci. Kaum salaman politis seolah mencipta drama setengah babak sebelum berantakan dengan aib-aib. Salaman berlakon politik makin bikin sebal.
Baca Juga: Kabar Gembira! Pemerintah Luncurkan Rumah Subsidi untuk Wartawan
Artikel Terkait
Mengapa Orang Kaya Suka Mengoleksi Jam Tangan Mewah?
Mengenal Geido, Jalan Seni untuk Menikmati Hidup dan Membuat Hidup Lebih Berkualitas
Lebaran di Depan Kamera