TINEMU.COM - Makanan pokok seperti nasi atau dalam bahasa Jawa disebut sego, memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat dari lahir hingga meninggal.
Masyarakat Jawa mengolah nasi menjadi berbagai masakan tradisional seperti sego kuning, sego ambengan, sego tempelan, sego skopondro, sego gandul, dan lain-lain.
Peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR BSK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wiwin Erni Siti Nurlina menjelaskan bahwa masakan tradisional khususnya dari masyarakat Jawa, memiliki kedalaman sejarah dan filosofi yang luar biasa.
Baca Juga: Stasiun Ketapang Permudah Masyarakat Bali dan Nusa Tenggara Berlebaran Mudik ke Pulau Jawa
“Masakan-masakan seperti sego skopondro, skorulo, skocometin, hingga skobrawong, misalnya, masing-masing punya latar belakang unik yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial dan tradisi lokal," papar Wiwin dalam Public Lecture tema Indonesian Identity in the Dynamics of Nusantara Cuisine yang di Jakarta, Jumat, 11 April 2025.
Menurutnya, makanan bukan sekadar konsumsi, tapi juga sarat makna simbolis, ritual, dan identitas budaya.
Wiwin menyebut bahwa skocometin yang berasal dari daerah Pati dan hanya disajikan dalam acara khusus, mengandung ikan janjan yang hidup di air payau. Makanan ini memiliki makna sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi kekeringan.
Baca Juga: Bank DKI Sampaikan Progres Perbaikan Sistem Layanan Transfer Antar Bank
Lebih jauh, Wiwin membagi kategori nama-nama masakan nasi tradisional ke dalam 11 konsep dasar. Pembagian kategori tersebut berdasarkan warna seperti sego kuning dan sego punar. Kategori rasa, bentuk, dan cara memasak, seperti direbus, digoreng, atau dimasak ribet.
Kategori sifat masakan seperti sego garingan. Kategori jenis lauk dan cara penyajian seperti sego ambengan, sego tempelan, hingga berdasarkan akronim dan geografi.
Wiwin mencontohkan sego gandul yang dulunya adalah makanan mewah karena lauknya dari daging sapi. Sedangkan sego garingan biasanya hanya terdiri dari lauk kering tanpa sayur, populer di kalangan anak-anak.
Baca Juga: Tommy Aldridge: Legenda Hidup Dramer Rock
Sementara itu, sego wargang berasal dari nasi sisa yang belum basi, kini direkomendasikan untuk penderita diabetes karena kadar gulanya yang lebih rendah.
Ada juga jenis masakan yang penamaannya diambil dari cara penyajian, seperti sego kumpul atau sego ambengan. Kemudian yang digunakan dalam ritual seperti sego asam putih atau sego tumpeng dengan lima warna.
Artikel Terkait
FoodStartup Indonesia, Perkuat Ekosistem Kuliner Agar Berjaya di Kancah Global
Nusantara Food & Hotel Expo Perkuat Promosi Industri Kuliner dan Perhotelan
Buku Rempah Rindu Soto Ibu, Menikmati Rasa Kuliner dalam Puisi
Film Terbaru Hanung Bramantyo Angkat Petualangan Kuliner Nusantara
Inilah 5 Kuliner yang Wajib Dicoba Saat Imlek