Mengapa Musik dan Lagu Bisa Menjadi Alat Self-Healing dan Self-Improvement?

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Sabtu, 9 Agustus 2025 | 09:20 WIB
Ilustrasi seseorang mendengarkan lagu untuk self healing (Poe)
Ilustrasi seseorang mendengarkan lagu untuk self healing (Poe)

TINEMU.COM - Musik lebih daripada hiburan—ia adalah alat biologis dan budaya yang kuat untuk menyentuh emosi, menata ulang suasana hati, dan bahkan membantu proses penyembuhan mental.

Ada beberapa mekanisme ilmiah dan psikologis yang menjelaskan mengapa lagu-lagu tertentu efektif untuk self-healing atau self-improvement.

Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa mendengarkan musik sebelum dan sesudah situasi stres mempercepat pemulihan sistem saraf otonom dan mengurangi tanda-tanda stres fisik, termasuk variabel kardiovaskular dan hormon stres.

Ini menjelaskan mengapa lagu yang menenangkan bisa terasa langsung “menenangkan” saat suasana hati kacau.

Baca Juga: Membaca Ulang Novel Jane Eyre Menemukan Relevansi akan Simbolisme dan Feminisme Awal

Review neurobiologis dari jurnal CellPubMed juga mengidentifikasi bahwa mendengarkan atau membuat musik mengaktifkan jalur dopamin (reward), menurunkan kecemasan melalui modulasi hormon stres, dan meningkatkan hormon-hormon yang memediasi ikatan sosial, semua unsur penting dalam pengalaman self-improvement.

Dengan kata lain, musik dapat membantu memberi “hadiah” internal yang memotivasi perubahan perilaku.

Selain itu, studi neuroimaging menemukan bahwa musik dapat memodulasi aktivitas amigdala, hippocampus, korteks prefrontal, dan struktur lain yang mengatur emosi dan memori.

Baca Juga: Lomba MTQ di RT 02/04 Kampung Kekupu, Tanamkan Jiwa Qur’ani Sejak Dini

Hal ini memungkinkan pendengar memproses kenangan emosional, memperoleh perspektif, atau melepaskan emosi—proses yang seringkali disebut katarsis.

Meta-analisis dan review PloS One menunjukkan bahwa musik terapi, baik melalui mendengarkan terarah, menyanyi, maupun penciptaan musik dapat mengurangi gejala depresi dan kecemasan bila dipakai sebagai bagian dari perawatan.

Meski kualitas studi bervariasi, konsistensi temuan mendukung peran musik dalam strategi klinis non-farmakologis.

Di level sosiokultural, lagu dengan lirik yang relatable atau anthem self-improvement memberi bahasa untuk pengalaman pribadi untuk mengurangi rasa terisolasi dan membentuk komunitas emosional (mis. pengguna Gen Z yang menggunakan playlist sebagai coping tool).

Baca Juga: Art Agenda x Art:1 : Menengok Jejak Abstrak Modern Indonesia di ArtMoments 2025

Laporan industri (dalam hal ini Spotify) seperti riset kultur Gen Z oleh platform streaming, telah memetakan tren ini dalam praktik sehari-hari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB
X