Contoh lainnya, syair dari Palembang yaitu Syair Mambang Jauhari, serta Leva Khudri Balti, Anggara Satria, dan Djangat di Pekanbaru yang memadukan tradisi penceritaan yang menggabungkan syair, tarian, dan musikalisasi puisi.
Baca Juga: Mendadak! Prabowo Inspeksi Langsung Dapur Makanan Bergizi Gratis di Rawamangun
Kemudian Tambo Alam Minangkabau, yang merekam pembacaan naskah oleh Buya Apriya (Lima Puluh Kota). Caranya dengan merekonstruksi bunyi yang digambarkan dalam teks, membunyikan alat-alat musik yang disebut dalam teks, serta merekam suara alam dan aktivitas sosial sebagai konteks.
Contoh-contoh itu, menurutnya, menunjukkan bahwa setiap pertunjukan adalah bukti kekuatan penceritaan, sebagai penciptaan permadani memesona yang menggabungkan sastra dan pertunjukan langsung dengan mulus.
Selanjutnya, Agus Heryana, Peneliti PR MLTL BRIN membahas tentang transformasi manuskrip sebagai teks berbuah seni pertunjukan. Menurutnya, transformasi manuskrip dapat digambarkan dalam untaian kata. Mulai dari teks menjadi gerak, dari gerak menjadi gerakan, lalu dari gerakan menjadi pertunjukan.
Baca Juga: Dennis Talakua dan Rio Tupamahu Rilis Single Tentang Hubungan Toxic
“Teks bukanlah pertunjukan, pertunjukan pun bukan teks. Teks adalah makna, tersirat dan tersurat dalam manuskrip. Sementara, pertunjukan adalah ekspresi emosional pelaku seni, ” ucapnya.
Agus lalu memberi contoh sebuah seni pertunjukkan pencak silat Ameng Timbangan. Seni ini menggambarkan olah raga bela diri aliran pencak silat Jawa Barat yang memiliki keunikan. Yaitu pada gerakan pencaknya yang tidak memiliki unsur kekerasan. Sedangkan menendang, memukul, serta mencengkram yang menimbulkan rasa sakit sangat dilarang.
Semua itu didasarkan pada sumber ajaran kerohanian yang ditulis oleh Raden Moezni Angga Koesoemah, dalam bentuk Teks Ajaran Timbangan. Salah satu ajarannya menekankan agar setiap manusia itu bersaudara dan memiliki rasa yang sama.***