TINEMU.COM - Humaniora digital dipandang menjadi langkah modernisasi dalam hal transfer dari manuskrip atau naskah kuno ke seni pertunjukan. Hal ini menjadi salah satu wujud kreativitas sebagai upaya menerjemahkan manuskrip itu ke dalam bentuk-bentuk lain yang mudah dipahami masyarakat.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Herry Jogaswara, menyampaikan hal tersebut dalam Webinar “Humaniora Digital dan Transformasi Manuskrip dalam Seni Pertunjukan” pada Kamis, 30 Januari 2025.
Herry menjelaskan mulai tahun 2026, pihaknya akan memperkenalkan istilah purwarupa. Menurutnya, ini sebagai sesuatu yang betul - betul nantinya manuskrip bisa dinikmati oleh publik dalam berbagai media, tidak hanya seni pertunjukan, tetapi juga dalam bentuk seni lainnya, seperti komik maupun game.
Baca Juga: Kumpul ASIK Blackmores: Awal yang Baik untuk Buah Hati
Kepala Pusat Riset Manuskrip dan Tradisi Lisan PR MLTL BRIN, Sastri Sunarti berharap, dengan adanya humaniora digital ini, seluruh sumber manuskrip hasil riset para penelitinya dapat dimanfaatkan.
Seperti halnya sastra literatur tradisi lisan dapat diberdayakan. Hal itu karena tadinya dianggap sebagai sesuatu yang kuno, masa lalu, maka dengan adanya humaniora digital dapat disebarluaskan dengan bantuan teknologi.
Selanjutnya, Alan Darmawan, peneliti Pasca Doktoral School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London membahas tentang bagaimana membunyikan naskah manuskrip digital dan penyajiannya melalui seni pertunjukan. Ia memandang dari sudut bagaimana naskah dalam lingkungan sosial dan budaya.
Baca Juga: Didukung Brand Sepatu Ternama, Cecil Yang Rilis Single 'Is It Love?'
Dalam risetnya, ia memetakan budaya pernaskahan di sumatera dan melihat kembali atau mempertimbangkan sebenarnya naskah - naskah islam. Ia mengaku, di SOAS, naskah dijadikan sebagai koleksi (perpustakaan naskah), aksara, bahasa, genre, bahan, penjilidan, dll.
Dari risetnya itu, ia menjelaskan mengkategorikan naskah yang mewakili tiga wilayah, yaitu Aceh, Minangkabau, dan Palembang. Ini ia tempuh dengan menelusuri perjalanan naskah, mempertimbangkan aspek material, dan para tekstual lainnya.
Alan juga menyampaikan adanya Resonant Pages Project, yaitu reka ulang penyajian teks untuk penonton masa kini. Ini dengan pemanfaatan naskah digital dari tiga repository, yaitu Leiden Digital Collection, Qalamos, dan EAP.
Baca Juga: Aliansi Jurnalis Video (AJV) Rayakan Ulang Tahun Ke-5, Tekankan Pentingnya Kode Etik
“Mereka menghasilkan karya kreatif, selain artikel ilmiah, buku, dan suntingan naskah,” jelasnya. Di sini, terdapat kolaborasi antara peneliti dengan seniman tari dan musik. Di mana, seniman memahami naskah sebagai sumber kreasi seni, sedangkan peneliti memahami naskah melalui pertunjukan untuk pemanfaatan hasil riset.
Alan menyebutkan beberapa contoh yang dilakukan seperti penciptaan karya tari baru dari naskah cerita persebaran Dala’il al- Khayrat di dunia Islam dan Asia Tenggara, tradisi pembacaan shalawat, dan sebagainya. Di mana, terdapat tarian yang disertai gerak ritmis ritual.
Artikel Terkait
Tercatat di Manuskrip Serat Centhini. Ini Asal Mula dan Sejarah Tempe
Inilah Pemenang Sayembara Novel dan Manuskrip Puisi DKJ 2023
Pertunjukan Silang Media ‘Waktu Batu, Rumah yang Terbakar’
Reginald Fessenden dan Pertunjukan Suara di Udara
Maria Somerville Rilis Karya dan Pertunjukan Terbarunya dengan Nuansa 'Shoegaze'